Jumat, 31 Mei 2019

30 HRDC day 27 : Katanya?

Katanya hijrah. Kok cuman penampilan doang yang berubah?

Katanya hijrah. Kok diajak solat bilangnya nanti dulu, padahal lu ngga sibuk.

Katanya hijrah. Kok masih barengan sama si anu.

Katanya hijrah. Kok lu masih nyinyirin orang lain?

Katanya hijrah. Kok itu muka sekental susu sapi?

Katanya hijrah. Lah, itu baju kok ketat?

Katanya hijrah. Itu rok atau celana kok lekukannya terlihat jelas.

Katanya katanya katanya. Tapi kok gitu?

Versi lu itu ya? Lucu!

Aduh, yang benar dong!
Iya gue tahu sekarang itu lagi marak begitu. Dan langkah awal yang baik buat lu nutup yang haram dipandang. Tapi kalau kelakuan lu masih aja bikin sakit mata dan buat orang lain jengah sama lu. Sebaiknya lu segera insaf deh. Kena azab lu entar mau?

Yah, kalau lu mau narik perhatian itu akhi-akhi yang Masya Allah, yang ada mereka kabur sebelum berperang.

Gue sebagai wanita ilfel lihat lu begitu. Karena lu dan gue sama. Saudari sesama muslim gue harap lu segera bangun dari tidur sesaat lu.

Bukan sok suci tapi gue ingin lu pahami dan mengerti.

#Day(27)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

30 HRDC day 26 : Waktu Telah Tiba

Waktu telah tiba. Usia telah sampai. Mata membelak berhenti beredar. Dingin sekujur badan, tubuh terdiam kaku tanpa gerakkan. Pucat pasi tanpa darah mengalir.

Sahutan tangis pilu saling beradu. Bacaan ayat  menggema di seluruh kediaman menjadikan doa terakhir berada di atas bumi. Keranda tempat terakhir menjadikan alas berbaring di atas bumi. Pakaian putih menjadi akhir yang dikenakan. Dan menjadi akhir kau beriringan bersama manusia di atas bumi.

Kini, kau telah di bawah bumi. Bersama tanah dan binatang melata. Namamu tertulis di batu yang mulai memudar. Keramik hiasanmu mulai terkikis di makan waktu. Daun merayap hingga meninggi. Tanah kering karena jarang sekali tersentuh air.

Kini, kau di bawah gundukan tanah. Berada jauh dari sanak keluarga yang mungkin saja mulai terbiasa tanpamu. Kau berada di antara lalu lalang kendaraan yang melirikpun mereka takut. Katanya tempat tinggalmu menyeramkan.

Di saat itu telah terjadi, semua hanya tinggal penyesalan. Sebab dahulu semasa hidup dunia berada dalam genggamnya hingga merasuki pikiran. Tak terbesit sedikitpun akhirat di dalam dadanya, jikapun ada hanya lewat seperkian detik. Tertabrak nafsu dunia yang menggoda.

Di saat itu telah terjadi, ampunan tidaklah berguna. Karena telah lewat kadaluwarsa. Waktu telah tiba. Siapkan diri menerima semua ganjaran yang kau tuai.

#Day(26)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Rabu, 29 Mei 2019

30 HRDC Day 25 : Aku Jatuh Cinta


Aku jatuh cinta pada lembaran-lembaran ukiran kata manis dan perhatianmu.

Aku jatuh cinta pada pahatan-pahatan kokoh dan tegas yang tercetak sangat rupawan.

Aku jatuh cinta pada setiap gerak-gerik yang kau lakukan.
Aku jatuh cinta tiada sesiapapun yang menarik perhatianku. Dulu.

Sekarang, aku membantu diam terpaku pada sekujur tubuh.

Menyaksikan kamu yang pergi tanpa menoleh.

Aku jatuh cinta tapi kau tidak mencinta.

Aku dengan mudah jatuh pada pesonamu, yang kutahu kau tak tahu itu.

Aku jatuh cinta dan lagi pada akhirnya aku tidak dapat memiliki.

Aku jatuh cinta, yang kutahu kamu butuh waktu lama menyadarinya.

Aku jatuh cinta menggunakan akal sekaligus perasaanku.

Aku jatuh cinta dengan akalku “tidak masalah karena semua orang berhak jatuh cinta. Entah dengan akhir saling memiliki atau jatuh cinta sendiri”

Aku jatuh cinta dengan perasaanku “aku begitu bodoh menaruh rasaku untukmu yang kutahu dengan akhir menyedihkan”

Dan sekarang aku jatuh cinta dengan rasa mengikhlaskan.

Sudah berapa lama?  Lewat 1 tahun? Aku masih memikirkanmu dengan cinta.

Aku tidak bodoh karena cinta, tenang.

Aku melihat postinganmu kau mulai mengikuti cara aku menyampaikan rasa. Benar?

Ahh.. aku rasa aku mulai gede rasa(GR)

Semoga berhasil heart. Kau lihat postinganku yang heart? Itu aku buat tertuju padamu.
Sukses selalu. Sebagai adik tingkat, junior di kampus aku mendoakan untuk senior yang sempat aku menaruh rasa, Semoga Sukses. Kabar terakhir aku dengar kau bekerja di Sekolah keperawatan, ya?

Bukankah aku hebat dalam stalking?(haha)

#Day(25)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah


Selasa, 28 Mei 2019

30 HRDC day 24 : Perihal jodoh

Berbicaralah soal jodoh itu menyenangkan, bukan?

Sebab dia masih menjadi suatu misteri yang mesti kita cari tahu dan bongkar.

Jodoh itu, seperti teka-teki yang harus kita pecah dan temui jawabnnya.

Jodoh itu, seperti puzzle rumit dan yang mesti dulu dibongkar pasang hingga menemukan bagian yang pas menyatukan bagian perbagian hingga mejadi kesatuan yang cocok.

Jodoh itu, seperti di labirin yang harus berkeliling di setiap tempat mencari jalan keluar hingga terbebas dari kukungan yang menjulak.

Dia menjadi sebagian objek yang di minta oleh seluruh hamba kepada Sang Khalik agar dipertemukan segera. Dan adapula yang jarang sekali mengucap itu dalam bait-bait doanya kepada Sang Kuasa Alam Jagat Raya. Sekali meminta pasti terasa di dalam dada merasa senang pasalnya, dalam lantunan doa jodoh tidak pernah menjadi topik utama yang diperbincangkan kepada Sang Pemilik Kehidupan.

Karena diri yakin, di manapun dia berada pasti akan dipertemukan. Tetapi mungkin untuk sekarang dia bukan menjadi utama yang harus diri kejar.

Diri tidak terlalu mencemaskanmu karena jika telah tiba waktunya, kita akan bertemu. Untuk sekarang diri harap kita sama-sama membuat diri kita produktif dalam berbagai hal.

Mari kita bertemu suatu nanti menjadi insan yang bersahaja, baik agama, pendidikan, sesama manusia, dengan sanak saudara terutama kepada Allah Azza Wa Jalla. Insya Allah. Aamiin.

#Day(24)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Senin, 27 Mei 2019

30 HRDC day 23 : Setelah kuliah, lalu apa?

Suatu hari aku berkumpul dengan temanku di kosannya setelah mata kuliah selesai. Aku menghampiri sebutlah Noviana, aku mengatakan numpang istirahat di kosan dia sampai masuk mata kuliah selanjutnya. Noviana ini di darah orang tuanya mengalir darah keturunan Jawa, dia pernah bilang kepadaku dia pernah pergi sekali sewaktu dia masih kecil di tempat neneknya di Jawa. Aku tidak tahu pasti Jawa di Yogjakarta atau Semarang karena dia hanya beberapa kali menyinggung Jawa saat kami berkumpul bersama. Kami bisa dikatakan teman dekat antara aku, Noviana dan dua teman lagi sebutlah Asma dan Hasni. Awal masuk kuliah disemester satu, aku berteman dengan Hasni, Susanti dia ini teman satu kamar dan satu kos dengan Hasni dan juga Sulfi teman di angkatan yang pintar. Awalnya aku mengira kami bisa berteman dekat tetapi seiring waktu berjalan hingga sekarang bisa dikatakan aku, Hasni, Asma dan Noviana kami berteman cukup dekat saling meminta bantuan satu sama lain, saling merepotkan satu sama lain, saling travelling satu sama lain, mengunjungi rumah satu sama lain, shopping satu sama lain.

Kami dekat tetapi tidak sedekat persahabatan bagai kepompong mengubah ulat menjadi kupu-kupu. Bisa dikatakan Asma, Noviana dan Hasni mereka lengket dalam berbagai hal sedangkan aku memang selalu menjadi orang netral jika di antara mereka berdebat atau saat mereka berbicara aku hanya sebagai pendengar sesekali nimbrung tetapi aku sangat senang berteman dengan mereka. Mereka tidak sungkan denganku, kadang kala mereka mengomeliku kalau memang ada sesuatu yang mereka tidak puas dariku tetapi mereka selalu menjaga pertemanan dengan baik.

“Tok, Tok, Tok”
“Siapa? Masuk”
“Ehh, ada kamu pale”

Hasni dan Asma teman satu kos dan teman sekamar juga, jarak kost Noviana dan Hasni dan Asma tidak terlalu jauh kalau berjalan kaki hanya masuk gang melewati lima sampai enam rumah kost, kost Noviana sudah ditemui.

“Apa bikin?” Hasni dan Asma duduk dihadapanku saling berhadapan di depan kipas.
“Nunggu dulu sampai masuk kuliah” jawabku.
“Mandre bakwan ki, maliwaseng ka.”
“Idi Hasni maliwaseng magai bakwan iko meli” Noviana yang sebelumnya berbaring, langsung bangun dan mendekat disekitar kami.

Bakwan harga lima ribu kami makan bersama, sambil bercerita mengenai kuliah yang tadi diikuti sambil mengenai setelah kuliah mau ngapain.

“Selesai kuliah mauka langsung menikah” Noviana tertawa sambil memeluk bantal dengan menjatuhkan dirinya di samping Asma.
“Saya kalau selesai kuliah Ardi ngelamar menikah ka kalau tidak kerjaka di Kalimantan kapang” Hasni menyayut sambil makan bakwan di sampingku-kipas sebagai jaraknya.
“Apaje cepat-cepat menikah, kerjami dulu. Menikah gampanglah itu, urusan belakangan. Di Shin?” Asma sambil memegang hape dan memandangku.
Aku tersenyum dan tertawa kecil “Sama, akupun gitu. Kerja dulu soal jodoh Allah-lah yang atur”
“Aku yakin toh, di antara kia pasti Shin yang terakhir menikah” Noviana bangkit dari berbaring ngasalnya.
“Iya, masalahnya tidak pernah sedding aku lihat Shin dekat sama laki-laki. Berbicar juga jarang” Hasni memandangku dengan ekspersi heran dan tak percaya. Aku hanya menaggapi dengan senyum dan membaca cerita novel di hapeku.
“Shin, kalau nikah jangan lupa ngundang nah” Asma melihatku dengan tertawa “Sempat di Kalimantan Shin nikah, belapaga pergi di sana” lanjut Asma sambil tertawa.
“Tidak tau” aku hanya membalas dengan mengangkat kedua bahuku.

Setelah kuliah, lalu apa? Setiap orang pasti telah merancang impiannya masing-amsing. Sewaktu kecil aku saat ditanya oleh teman-teman, orang tua, dan guru, apa cita-citaku pasti aku jawab Dokter, karena Dokter adalah cita-cita kedua orang tuaku, aku yakini itu cita-citaku-Dokter pada diriku sendiri. Hingga duduk dibangku Madrsah Aliyah aku berjalan sesuai arus kehidupanku, setelah lulus hingga aku berada di sini jauh dari keluargaku dan duduk dijurusan yang sekarang aku tempuh aku yakin itu tidak mudah.

Sewaktu SMA aku selalu mengikuti penyanyi-penyanyi baik dalam negeri ataupun luar negeri dan keinginanku diwaktu itu ingin menjadi penari. Tetapi aku malu menari di depan orang, apalagi menari dengan pakain kekurangan bahan atau berbaju ketat aku mundur dari keinginanku itu. Setelah duduk disemester tiga aku mengikuti organisasi lembaga pres mahasiswa(LMP) aku mulai menyukai kegiatanku ini, menjadi wartawan magang biarpun hanya mewawancari di dalam kampus itu buat aku bangga sendiri menjadi redaktur sementara.

Saat pemilihan devisi, aku memilih devisi layout karena aku ingin mencoba hal baru mengingat aku untuk masalah mengedit masalah naskah aku bisa biarpun ngga pintar amat jadi aku memilih devisi layout. Setelah dipilih oleh Pemred (Pemimpin redaksi) aku ditempatkan di bagian redaktur, antara senang dan sekaligus sedikit terluka tetapi aku menjani beberapa waktu dibagian itu, hingga semester empat aku mulai menghilang karena tugas kampus yang tidak bisa aku duakan. Aku memilih out dari LPM RED LINE. Mulai dari lembaga ini aku menyukai apapun menyangkut jurnalistik.

Saat semester lima ada sebuah formulir online broadcasting aku mendaftar dan memilih devisi announcer/penyiar aku belajar sampai mengikuti trainning, setelah duduk disemester enam aku out kembali dan itu buat aku kesal sendiri, aku sangat menyukai ini tetapi aku tidak bisa bagikan fokusku dengan semester yang mulai buat aku sibuk. Akhirnya aku memilih out dari pada kuliahku berantakkan. Karena aku tidak bisa membagikan fokusku kepada yang lain. Dan kesibukan di semester ini harus aku utamakan dari yang lain.

Jika di tanya setelah kuliah, lalu apa? Aku merencanakan banyak hal dalam pikiranku dan telah aku sebut satu persatu dalam doa kepada Tuhan. Karena aku yakin rencana Tuhan jauh lebih baik dari rencanaku. Aku merencanakan banyak hal tetapi Tuhan-kulah yang menentukannya, dan pastinya doa dan tindakan menjadi penolong, Insya Allah. Aamiin.

#Day(23)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

(Perhatian Member : Kalau bahasa bugisnya salah tolong di maklumi ya, hihi)

30 HRDC Day 22 : Cuap-cuap Again


Assalamualaikum ikhwat and akhwat, how are you today?

Bagaimana udah mau dekat akhir Ramadhan, liburpun menunggu di depan mata. Buat yang mahasiswa/i ini libur semester yang panjang ya ngga buat kita? Setelah lebaran masih ada kuliah  ngga? Nuntas yang masih ketinggalan? Kalau aku sih masih ada kuliah setelah lebaran satu minggu aku masih kembali menggejar ketertinggalan. Sebenarnya kalau masih ikut kurikulum lama sekarang aku ngga bisa ikut post ini challenge pasti KKN ples PPL tapi kurikulum diangkatan aku kurikulum baru jadinya aku masih stay in here sampai masuk semester baru and mouth September aku baru jalanin KKN and PPL.

Gimana nih buat mahasiswa/i udah ada rencana selama libur panjangnya diisi dengan apa? Kalau aku sih lagi cari loker siapa tahu ada yang pas ya udah  join  kalau  ngga ada ya udah (wkwk).

Ohya, buat ibu-ibu, buat kue apa aja sih selama lebaran ini? Makin sibuk ya? Kemarin aku  telepon  mama di kampung, mama aku  juga sibuk buat kue hari ini katanya selesai padahal masih lama loh lebaran bulan depan (wkwk).

Gimana udah ada beli baju untuk lebaran ibu-ibu dan teman-teman? Kalau aku sih ngga beli soalnya baju gamis tahun lalu masih ada cuman dipakai dua kali tahun lalu (haha) aku mah simple ngga rempong pakai aja dulu yang masih bagus (hihi).
Yah terkecuali adik-adik aku sama mama di kampung mereka dibeliin baju sama bapak. Kalau aku apa atuh buih-buih yang mulai dilupakan (hihi) ngga deng bapak sebenarnya nawarin beli baju  ntar  dia ngirim, tapi aku bilang  ngga usah ehh bapak iyain. Kan sebenarnya aku begitu supaya dipaksa gito loh,  kalau bapak kirim aku beli yang lain, beli tas mungkin atau buku, ini cuman sekali nawarin aku  nolak bapak iyain, ampun dah ngga pekanya (haha).

Mau nulis apa lagi? cukup kali ya? Curcol aku. Selamat hari akhir mendekat Ramadhan, Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadr dan mendekati Idul Fitri ya. Semoga Allah masih beri kesempatan untuk  ketemu di tahun yang akan datang. Aamiin.

Jalan-jalan di kota Pontianak
Ketemu cowok cakep di teras mesjid
Hei.. Ikhwat soleh calon imam
Aku cuman mau bilang Waalaikumsalam

#Day(22)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah



Minggu, 26 Mei 2019

30 HRDC Day 21 : Bahwasanya

Embusan angin meniup wajah alam. Mataku tak berkedip menatap langit. Terlalu luas tak bertepi pandang. Bisakah aku menyentuh awan?

Perwaktu-waktu aku mengasuh rasa. Mendengarkan jiwaku berkata-kata. Tak mungkin aku abaikan kata hati. Kuharus jujur pada hatiku.

Sejauh kaki melangkah, berlayar menuju tujuan. Terbang hingga melayang angkasa. Aku rasa itu inginku. Tetapi mengapa masih risau?

Berkumpul bersama orang-orang terpandang, berbicara pengalaman banyak hal hingga tengah malam menjemput. Rehat sejenak menyambut aktivitas esok hari. Diam dengan mata terbuka lebar di atas ranjang. Tetapi mengapa itu semua tidak membuat aku senang?

Makan berbagai jenis makanan. Makanan favoritku salah satu menu yang disediakan hingga sendawa menutup rasa dahaga. Tetapi mengapa batinku bergejolak menolong kepuasan itu?

Aku mencari kesenangan lain. Belajar tanpa henti. Puluhan novel aku baca tuntas dalam hitungan hari dan bulan. Puluhan buku pengetahuan aku baca tuntas dalam waktu sekejap. Aku menulis apa saja karena menurut salah satu ahli dan pendapat beberapa orang terkemuka mengatakan menulis membuatmu merasa tenang menuntaskan jiwa yang berkabut, tetapi hasilnya? aku tetap merasa ada yang kurang. Tetapi apa?

Aku menjalani hari-hari seperti manusia lain. Beraktivitas dan berinteraksi bertemu berbagai manusia baru karena aku menyukai hal seperti itu. Suatu kebetulan atau jalan yang telah Tuhan rencanakan, aku bertemu alim agama disebuah perpustakaan pusat kota. Kami duduk bersisian, dia sama halnya seperti bapak-bapak pada umumnya hanya saja pakaiannya lebih modis tidak menyangka dia seorang alim agama. Dia membaca buku ukuran setebal 200-300san dengan bantuan kacamata dan satu buku disisi kanannya dengan ukuran yang sama dengan dia baca.

Aku mengamati dengan seksama lantas dia menolehkan kepalanya kepadaku sambil tersenyum dia berkata “Apa yang kau baca nak?” akupun membalas dengan senyum serupa lantas berkata “Sebuah novel pak” dia mengalihkan perhatiannya kepada buku dalam genggamanku “Iblis Menggugat Tuhan?” diapun kembali fokus dalam bukunya sambil berkata “Ketahuilah nak, banyak orang cerdas dan pintar di luar sana tetapi perihal agama dia tidak capai dalam dirinya. Dia sama halnya dengan iblis menentang Tuhan saat bersujud kepada Adam. Kenapa?” diapun kembali menolehkan kepalanya menghadapku “Karena sombong menjadi teman dalam egonya. Tidak tahu diri, Tuhan telah menciptakan dia padahal dia tahu tentang itu”

“Tapi pak, kenapa Tuhan ciptakan manusia sedang DIA tahu pada akhirnya manusia akan berbuat binasa pada diri mereka sendiri. Tidak cukupkah manusia terdahulu sebagai pelajaran”

Diapun menyimpan bukunya diatas meja dan menutupnya sambil tersenyum seraya berkata “Maka dari itu, begitu Maha Esa-nya Tuhan telah meciptakan manusia terdahulu sebagai suatu pelajaran untuk kita jadikan patokan supaya kita tidak mengulang kesalahan mereka. Dan sebagai bukti untuk kita seluruh umat jika yang mereka perbuat selama hidup akan diminta pertanggung jawaban. Surga dan neraka itu nyata adanya. Dan Al-Qur’an telah menjelaskan semuanya. Lantas apa yang buat kamu ragu?”

Aku terdiam sejenak dalam dudukku mentatap buku dalam genggamanku. Bapak itu berdiri dan menepuk puncak kepalaku pelan “Nak, yang kamu butuh untuk hatimu yang tidak merasa puas itu hanya satu. Yaitu yakin bahwa Tuhan yang Maha Melihat dan Maha Mendengar selalu bersamamu. Bahwasannya manusia itu yang membutuhkan Tuhan-nya bukan Tuhan yang membutuhkan hamba-nya”

#Day(21)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Jumat, 24 Mei 2019

30 HRDC day 20 : Benar tidak selalu benar pasti ada celah kosong untuk salah

Meletakkan yang baik di tempat yang buruk, jauh lebih baik dibandingkan dengan meletakkan sesuatu yang buruk di tempat yang baik. Apapun yang dicapai dan setinggi apapun prestasi yang mampu diraih, ternyata hanya akan bernilai jika mampu hidup berdamai dalam segala dinamika yang ada. Keberprestasian hakiki akan diperoleh jika dilakukan dengan cara yang manusiawi. Manusia sejenis apapun yang bakal mampu bertemu dengan Tuhan yang sesungguhnya.

Jika agama dibawa dalam kepentingan duniawi, maka tidak akan tampil menjadi sebuah ajaran yang mendorong jiwa manusia untuk menemukan Tuhannya. Agama yang benar akan mengajak manusia untuk berdamai dengan setiap keadaan dan berlindung di balik nama kemanusian. Hidup benar belum tentu hidup baik atau hidup baik belum tentu dapat dijalani secara benar.

Benar tidak berarti selalu benar. Selalu ada celah kosong untuk disebut salah. Sama dengan salah. Selalu mengandung ruang kosong untuk disebut benar. Pemilik kebenaran itu tunggal, yakni Tuhan yang juga tunggal. Karena pemilik kebenaran itu hanya milik Tuhan, maka kita tidak mungkin untuk menyandingkan diri kita sebagai pemegang tongkat kebenaran.
Dunia terlalu sering dihadiri para “pemilik kebenaran” yang selalu bercita-cita menguasai apapun untuk mengimplementasikan kebenarannya. Bukan hanya di jaman Nabi Musa yang tersedia Fir’aun, tetapi bahkan setelah dunia dinyatakan sudah renta seperti hari ini, Fir’aun-fir’aun itu masih eksis. Kita sudah sering menyaksikan bagaimana dampak buruk perilaku model Fir’aun. Jadi agak lucu kalau hari ini, Fir’aun harus kita hidupkan kembali.

(BOOK : Dalam Novel Agama Tanpa Tuhan oleh Cecep Sumarna)

#Day(20)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Kamis, 23 Mei 2019

30 HRDC Day 19 : Pertemuan Bert dan sHe


Bert, kamu harus tahu bahwa ketika takdir memang menyerah atas kehendak kamu dan aku, kita mungkin patut mensyukurinya. Tetapi jika tidak, aku hanya mampu meyakinkan dirimu bahwa, kapanpun kau mendapati aku, dalam posisi bersama ataupun tidak, yang karena durasi waktu telah memisahkan kita cukup lama, sehingga wujud kita menjadi berubah, tampaknya rasaku takkan berubah. Dalam keadaan itu, seperti apapun wujud aku nanti, aku bahkan hanya akan menampilkan dan memastikan bahwa kamu tetap bahagia.

Mengapa kau tetap bahagia? Karena saat itu kau akan menemukan aku dalam kedudukan yang tetap sama bahwa aku akan terus menjaga rasa sayangku sama kamu. Aku tidak ingin untuk saat ini, menjadikan aku sebagai sesuatu yang luar biasa bagi kamu. Karena aku adalah manusia biasa dengan takdir yang juga aku yakin, biasa. Bert, sejujurnya bahkan aku ingin bertanya kepadamu. Setulus apakah cinta kamu kepadaku?

Bert diam, mukanya merah sedikit dengan mata yang meredup dan melelehkan air mata secara pelan. Ia mengatakan, sHe, itu pertanyaan bodoh yang pernah aku dapatkan dari seseorang yang di mana seluruh rongga tubuhku, hanya diisi nama-mu tentu selain nama Tuhanku. sHe, apa sesungguhnya yang tampak di mata dan hatimu tentang aku? Setelah sekian lama perjalanan yang curam ini kita lalui, tidak kah kau merasakan denyut nadi dan denyut jantungku yang menyatakan bahwa betapa aku sangat tulus mencintai kamu. Aku bukanlah laki-laki sempurna bahkan jika harus dibandingkan dengan kesempurnaan laki-laki yang telah menjadi kekasihmu. Aku adalah manusia biasa yang sesungguhnya juga biasa.

Aku dan kamu hanya ditakdirkan untuk saling mencintai, selebihnya aku tidak tahu dan tidak menginginkan apapun. Akupun tak memaksa dan tidak menuntut kamu untuk menjadi pendampingku, bahkan sekedar untuk mencintaiku. Namun demikian, aku mohon tetap izinkan bahwa di dunia ini ada seorang laki-laki yang tulus, mulutnya harus mengungkap satu rangkaian batin yang menyatakan bahwa betapa aku mencintai kamu. Cinta sejati yang kupendam ini, kupercaya tidak mungkin mampu dirangkai dalam bait-bait puisi atau dalam cengkraman prosa yang disusun penyair kelas dunia setingkat Kahlil Gibran sekakipun.

Bert, sHe memelas dengan sangat syahdu. Kamu harus tahu bahwa betapa dalamnya cinta ini sehingga seperti pisau yang sangat tajam, terus menerus menghujam ke dalam setiap irisan hatiku. Ia telah menghujam, menggerogoti, melucuti, dan bahkan melepuhkan kedirian, sehingga karenanya aku menjadi terlupa akan segala hal, termasuk sifat pribadiku sendiri. Aku tak kuasa pada akhirnya sehingga takluk pada sifat gairah cinta itu sendiri. Tetapi izinkan aku, untuk merenung agar mampu memilih mana yang terbaik di antara kita. Untuk apa? Agar tidak ada penyesalan yang mungkin terjadi di kemudian hari atas semua putusan yang kita ambil. 

sHe terus berkata seperti kemasukan ruh cinta tulusnya sebagai manusia. Bert, cinta ini tak sebatas angan yang terlukis dibenakku. Bukan pula permainan kata-kata sepahan yang tak bermakna. Kesungguhan cinta aku sama kamu, jujur tampaknya tak akan pernah pupus dan tak akan lekang di makan waktu. Rasa cintaku padamu ini, terasa selalu indah meski kadang hadir dengannya sebuah derita batin yang tak berperi.

(BOOK : Dalam Novel berjudul Agama Tanpa Tuhan oleh Cecep Sumarna)

#Day(19)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

30 HRDC Day 18 : Kenapa Pertemuan Sesingkat Ini?


benar kata petuah teman mengatakan “Kalau rindu itu gangguan batin” “Kalau rindu tak abadi, tidak juga bisa hilang, sebab Tuhan menciptakan rindu untuk menguji”

Saat-saat rasa rindu itu menyapa, merasuki kulit subcutis terpantul oleh tulang hingga hinggap di jantung hati. Menggebu ingin bertemu; tetapi keadaan yang tidak mengijinkan. Kasmaran dalam waktu panjang hingga musim berganti, tahun berlalu, libur panjangpun mengucapkan selamat datang.

Kini, usaha tak selalu begitu mengecewakan. Sebab di atas Arsy tak pernah meninggalkan insan yang selalu meminta disertai usaha.

Akhirnya hari itu tiba, bertemu kekasih utama di dalam hati yang telah lama menyebut-nyebut namanya dalam lantunan doa. Rindupun akhirnya terbayar biarpun tak begitu banyak waktu. Hasrat ingin menjadi nyata. Telah lama menunggu. Akhirnya.

Ani, sebutlah begitu. Gadis yang sekarang duduk di semester 6 ini melewati satu tempat ke tempat satu demi menuntaskan hasrat ingin bertemu rindunya. Banyak hal baru yang ia temui dan menjadi pengalaman yang tak terlupakan baginya. Sebelum hari keberangkatannya ia sempat dilema karena tidak ada satupun menemaninya menunggu atau mengucapkan selamat jalan dan hati-hati atau kalimat sampai dengan selamat ditujuan.

Setelah memasuki pintu masuk, berbondong-bondong manusia saling berdesak-desakkan mengikuti arah yang ditunjukkan petugas kapal hingga sampai di tempat untuknya beristirahat sampai kapal menyangkutkan jaringnya di tempat tujuan.

Seorang diri tanpa kenalan satupun ia seperti orang asing di tengah manusia yang punya pasangan dalam perjalanan mereka, sudah begitu bagian tempat istirahatnya bagian paling pojok, kalau petugas kapal yang mengangkat barang lewat, dirinya didzolimi dengan berkarung-karung berisi barang itu, hingga mengenai tubuh tak berdosanya, serta bau menyengat yang tak sedap. Ples pasangan sejoli orang tua di sampingnya menampilkan love love melayang di sekitar keduanya. Nih ya, itu nenek-nenek seperti cemburu sama aku(Ani) sebelumnya itu kakek-kakek kalau tiduran posisinya di tengah, antara aku dan nenek itu(istri kakek) bak kembali di masa remaja jatuh cinta itu nenek-nenek mengatakan dengan kesal biarkan dia saja(nenek) berada di tengah dan suaminya berada di samping kanannya. Melihat istrinya(nenek) kesal kakek itu senyum sambil merayu istrinya jujur aku tidak mengerti apa yang mereka katakan. Aku tersenyum kecut melihat interaksi kedua orang tua itu. “Nebar-nebar romantis di sini lagi tuh orang tua, ngga lihat kondisi apa, sendiri nih aku. Apes dah”

Pengumuman terdengar di seluruh pengeras suara di kapal itu, mengatakan tidak lama lagi kapal sampai di tempat tujuan mereka. Sore, tidak begitu perhatikan jam berapa mereka semua sampai. Setelah keluar dari pintu, barang yang ia bawa telah diamankan entahlah di mana yang jelas orang suruhan yang ditugaskan untuk mereka yang ilegal. Yaps, tujuanku negeri seberang mendatangi rindu yang telah menunggu dengan cemas. Sembunyi-sembunyi seperti buronan, tegang seperti adegan dalam cerita thiler. Kami dikumpul menjadi beberapa kelompok di arahkan segera memasuki sebuah rumah terlihat seperti rumah tua yang tak berpenghuni, orang yang berdiri di depan sana berbicara tegas namun pelan mengatakan untuk diam sebentar sampai polisi-polisi di luar sana telah pergi dan keadaan aman. Aku melihat di sekeliling tempat ini dan orang-orang yang memasang muka tegang serta berbicara dengan bisikan, salah seorang bapak-bapak menyuruhku duduk dikursi di belakang aku, akupun menduduki kursi itu tetapi melihat hanya aku yang duduk di atas sedangkan yang lain di bawah aku kembali ditempatku semula. Memperhatikan kembali disekitar mataku menangkap sepasang mata mengarah di sekitarku, aku yang merasa diperhatikan lantas melempar senyum tipis kepada pemuda itu. Seperti angin sedingin es dan setajam sembilu;perih. Itu orang tanpa balasan memalingkan wajah dan berbicara dengan anak kecil di sampingnya. Oke, tulisan warna merah disematkan untuk dia; cuek dan sombong.

Kesadaran menarikku pada keadaan yang sedang menghimpit. Bapak-bapak yang sebelumnya menyuruhku duduk dikursi tadi mengatakan segera keluar keadaan di luar telah aman. Berbondong-bondong manusia di depanku keluar dan menaiki perahu tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil artinya panjang kali tinggi kali lebar perahu sedang ini; kami menaiki. Sebanyak 30 orang atau mungkin lebih saling berdempet-dempetan, yang seharusnya hanya sampai 25 orang dalam perahu, sudah di isi sebanyak mencengkik badan. Bapak-bapak pemilik perahu songong sih, sok jagoan. Akhirnya apa yang terjadi membawa kendaraan tanpa perhitungan, tahu dah ini laut tapi bisa santai kali jangan ngegas. 

Alampun seakan mendukung langit warna kehitaman(hitam abu-abu) angin meniup dengan kencang, burung-burung terbang jauh entah pergi di mana. “Pertanda buruk” itu dipikiranku, komat kamit bibirku mengucapkan istigfar berdoa di dalam hati Allah sebagai pelindung. Suara ibu-ibu di depanku yang mengendong anaknya berkata “Jangan takut nak, saya sudah berapa kali melewati ini, semua baik-baik saja, tidak berguna itu istigfarmu. Nanti ada apa-apa saya panggil itu anak-anakku di bawah air, keluargaku yang telah meninggal untuk datang membantu kita kalau terjadi sesuatu yang buruk. Tenang jangan takut” aku hanya memandang dengan muka bodoh amat udah keburu jantungan nih dengan keadaan seperti ini. 

Keadaan semakin menjadi, percikan airpun mengenai orang-orang yang berada dibelakang, si pak tua pembawa perahu songong itu menyuruh orang yang berada di depan maju diikuti orang-orang di belakang, angin semakin kencang hujan kecil-kecil mulai berjatuhan perahu goyang-goyang kena terpaan angin membuat ibu-ibu berteriak dengan kaget dan histeris anak dalam gendongan ibu yang berbicara di denganku tadi menangis, aku semakin takut “Mati ini, mati ini” pikirku lagi, tanganku yang berada di samping perahu aku lepaskan, aku tidak ingin terpelanting keluar dari perahu dan gentayangan menjadi arwah tersesat tak tahu arah jalan pulang. Jika itu terjadi orang pertama yang aku datangi pak tua pemilik perahu yang songong itu duluan kudatangi. 

Teriak bapak-bapak di bagian depan membuat jantungku memompa dengan cepat “Astaga. Astaga. Alamat mati benaran ini” pikirku kembali, tanpa pikir panjang satu tanganku memegang tangan pemuda di sampingku dengan kepala menghadap keluar perahu. Hampir 1 menit tidak ada reaksi penolakan dari pemuda itu aku mengintip melalui lirikan mataku, bak kesatria di panglima perang badannya lurus menghadap di depan dengan tegak seakan keadaan yang sedang terjadi tidak membuat ia gentar, bak batu kokoh berdiri di tengah-tengah keributan diam tanpa reaksi. “Ini orang manusia batu kah?” pikirku, amukan laut membuat perahu yang kami tumpangi semakin bergoyang orang-orang semakin maju saling sesak, demi keselamatan hidupku kedua tanganku secara sempurna menjadikan tangan pemuda di sampingku sebagai penompang dari amukan keadaan di perahu ini. Aku menolehkan kepalaku menghadap pemuda tadi seperti tersambar petir dia tersenyum padaku “Inikan laki-laki yang cuek dan sombong tadi, bisa juga dia tersenyum” aku membalas dengan senyum singkat, langsung menoleh saat ibu-ibu rempong di depanku ini berbicara “Nak, bagaimana mi ini”
takutkan lo bu, panggil itu arwah untuk minta tolong” suara dalam pikiran, ngga berani deng menyuaran secara langsung bisa dilempar di luar secara tidak manusia nanti sama ibu ini .
“Ucap istigfar ibu, baca surah-surah pendek” ucapku dengan wajah masih panik.
“Tapi ayat apa” nih ibu satu.
“Apa saja ibu, yang ibu tau”

Entah sekarang kami berada di laut mana, tanpa kehidupan, hanya hutan di dapati sepanjang perjalanan menuju tempat tujuan. Aku melihat pemuda di sampingku tangan satunya di tarik ibu-ibu di belakang, menjadikan tangan itu sebagai pegangan. Aku perhatikan dengan seksama ini cowok keren mengenakan jaket berbahan dari plastik? Kulit? Pokoknya jenis jaket yang bagus, celana levis mulus serta sepatu bersih tanpa noda cemerlang tak lupa rambut di tata dengan elit terlihat sedikit jabrik, penampilan sempurna di tata dengan baik dan rapi yang buat aku terpana melupakan daratan sejanak alis hitam dan tebalnya, ini orang terlihat maco. Di tambah sikap tenang dan coolnya dalam keadaan seperti ini membuat aku jatuh kembali di dasar muara di tumbuhi bunga-bunga indah.

“Nak-nak tolong carikan dompet ibu, semua duit, kartu dan yang penting di sana semua. Di mana yah” nih ibu rempong satu menghancurkan imajinasiku saja. Lama sekali, hingga keadaan mulai membaik dan sudah mendekati sampai ke tujuan. Barulah itu dompet ibu rempong ketemu kami sampai dalam keadaan selamat sentausa. Sama halnya menaiki perahu, orang-orang di dalam perahu berondong-bondong saling ingin duluan sampai di rumah yang perahu kami singgahi. Aku yang melihat hanya menunggu dengan sabar di bagian belakang, pemuda yang tadi-berada di belakangku, seakan melindungi aku dari orang-orang yang tidak sabaran ingin segera mencapai rumah. Dengan gesit pemuda itu berada di depanku “Pak, pak gantian sama ini perempuan dari tadi dia menunggu” tanpa memikirkan si bapak yang di ajak bicara dia mengulurkan tangannya untukku gapai “Romantisnya” pikirku, tanpa membuat yang lain semakin menunggu dan membuyarkan segera imajinasi yang mulai berkeliaran dengan segera aku meraih tangannya. Setelah sampai di pelataran rumah aku menunggu pemuda tadi ingin mengucapkan terima kasih.

Setelah semua naik dengan selamat pemuda tadi menghampiriku “Kamu tidak apa-apa?” Aduh mamasayange nih cowok buat seluruh anggota tubuhku panas seketika, boleh bawa pulang ngga sih diseret ke KUA. Aku menganggung menaggapi ucapannya saat ingin melontarkan terima kasih secara ajaib ibu rempong tadi memelukku dengan erat “Kita selamat nak” ucapnya, aku membalas dengan senyum lega tulusku untuk ibu itu. Seraya berkata “Iya”. Ibu rempong melonggarkan pelukannya dan mengajakku masuk ke dalam rumah yang kutanggapi dengan anggungkan kepala, aku menoleh di tempat pemuda tadi berdiri sudah tidak ada, aku melihat dia memasuki rumah di sebelah rumah yang kutempati. “Beda ya?” pikirku, ternyata di dalam perahu yang kami tumpangi yang dikemudi pak tua songong tadi tujuan akhirnya berbeda aku pergi Selatan sedangkan dia Timur. Kenapa pertemuan sesingkat ini?

(PERHATIAN MEMBER : This True Story, ini cerita teman aku. Dan cerita ini nyata ngga aku buat-buat setiap percakapanya untuk deskripsi aku campur bumbu aja sih tapi itu real, teman aku udah lama banget cerita ini sebelum puasa. Sumpah pas teman aku cerita ini itu buat aku ketawa kek pikiranku. Masa sih? Betulan? Aku mau ketemu itu cowok, secool apa sih itu cowok. Ingat oppa-oppa Korea itu cowok punya alis mata tebal(sumpah). Ini aja nulisnya sampai ketawa sendiri ingat kembali yang teman aku ceritakan. Dan jadilah ini cerita. Sebenarnya masih ada lanjutan sih tapi ngga penting amat setelahnya karena ngga ada itu cowok (wkwk) Ohya rindu yang aku maksud tadi itu keluarga teman aku).

#Day(18)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah


30 HRDC Day 17 : Rasa Sakit Merupakan Obat Bagimu


Sebuah syair seorang filosof sufi, ia berkata;

Jangan berkata padamu hati-hati... jangan pergi, jangan pergi...
Sedang sekarang engkau telah pergi
Maka serahkan dirimu pada aruh

Syair filosof ini memberikan peringatan ketika bepergian ke laut percintaa. Namun ketika masalahnya telah diketahui dengan mendalam dan sungguh-sungguh, maka nasihat untuk kembali tidak akan ada faidahnya.

Sedangkan menurut pengarang buku ini sendiri mengatakan kepada orang yang tidak pandai bercinta;
Kesakitan adalah obatmu dan tidak ada penyelesaian selain itu. Aku ulangi sekali lagi
Penyakitmu adalah obatmu, tidak ada penyelesaian lain
Apakah apa yang aku katakan ini masuk akal?
Apakah ia satu kegilaan?

Pada hakikatnya cinta itu logis sekaligus sangat gila. Logika demam asmara yang hanya memiliki satu logika, yaitu logika dirinya sendiri.
Demam cinta memang akan berlanjut terus selamanya dan tidak akan padam, akan tetapi yang harus diingat jangan sampai cinta itu menjadi berkarat. Lukamu akan senantiasa baru, selamanya tidak akan terbalut. Akan tetapi jangan sampai engkau menjadi lemah. Jadikanlah api siksamu sebagai bahan bakar kekuatanmu. Jadikanlah api yang menyiksamu sebagai api perjuanganmu untuk mencapai impianmu.

Aku tidak berkata padamu “Lupakan rasa sakit” karena pengalaman sejarah dalam cinta mengatakan bahwa orang yang jatuh cinta tidak akan bisa melupakan rasa sakitnya selamanya. Namun tujuan dari apa yang hendak disampaikan dari kata itu adalah biarkanlah cinta rela pergi dari belantara bius yang berkepanjangan.

Aku katakan kepada engkau agar jangan sampai rela menerima kenyataan diri seperti itu, engkau akan hidup dengan kehidupan tanpa hidup dan engkau akan memakan bangkai hidup. Akan tetapi pedulikanlah. Jika api cintamu mengecil maka engkau harus memperbaruinya terus menerus. Tatalah hidup dalam neraka dunia ini, dan untuk menaggungnya bersandarlah pada kekuatan imanmu agar engkau mampu merealisasikan apa yang tidak mampu dicapai orang lain.

Aku katakan kepadamu jika luapan cinta mendekatkanmu kepada sampah, kelinglungan dan merusak keadaan, maka engkau harus membuatnya mendekatkan dirimu kepada kekuatan, keuletan dan kemantapan.

(BOOK: Cinta Dalam Perspektif Islam oleh Muhammad Ibrahim Mabrouk)

#Day(17)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah


30 HRDC Day 16 : Cinta Terbelenggu Nafsu Bukan Cinta Suci


Keadaan seorang pecinta yang negatif seolah akan berkata begini:

Wahai tuanku, telah begitu lama aku terpuruk di jalan untuk dapat menggapaimu, engkau melihatnya dalam pandangan matamu yang mudah, sedang aku melihatnya sebagai suatu kemustahilan. Wahai tuanku, aku tidak memiliki kekuatanmu dan aku tidak memiliki lagi kemampuan untuk berperang. Berapa banyak telah terkoyak, berapa banyak telah terhisap dan berapa banyak telah terbakar hangus.

Neraka kehidupanku dalam kegelapan yang tidak mampu aku jalani dan neraka cintaku bermimpi yang tidak aku sanggup untuk merealisasikannya. Setiap kali aku memejamkan mataku untuk membenamkan diri dalam semua yang menghilangkan  perasaan yang sebenarnya, sehingga aku benar-benar terbius dan berpuar-putar dalam tangkai neraka yang aku jalani, aku menemukan keagungan dan kegagahan-Mu menyambarku bagai petir dan merobek mendung keterbiusan dalam  mataku. Maka, aku melihat kehidupan seolah neraka yang tak seorangpun mampu menaggungnya. Aku berharap bisa meninggalkan semua kesedihan dalam diam. Aku berharap kepadamu jangan lepas dari mataku mendung bius perasaan terbakarku. Aku berharap meninggalkan ini semua, aku menyerah untuk beristirahat dalam surga keputusasaan dan dalam lembutnya pasir. Jangan jadikan aku melihat matamu menjadi cermin kepedihanku. Biarkan aku berlalu pada tempat penggalanku agar aku tersembelih sekali lagi. Jangan menjerit karena aku, maka itu akan menyembelihku seribu kali. Aku berharap... aku mohon... jangan menjerit karena aku. Jika tidak, aku akan membunuhmu.

Sedangkan kenyataan orang kasmaran yang positif seolah akan berkata begini:

Bangkitlah dari tumpukan kenistaan dan kebususkan serta turunlah dari atas tiang salibmu karena palu belum diayunkan. Keluarlah dari kotak kelemahanmu dan lepaskanlah luapan percikan dirimu. Melompatlah kepada cahaya dan matahari atau tempat sinaran, tumpukan semua haus dahaga ruhmu kepada keajaiban, kecantikan dan keabadian. Bergelimanglah dengan cinta dan berhiaslah dalam cahay. Sekejap saja engkau akan hidup dalam surga Allah di dunia.

Alangkah indahnya kebersamaan. Ia akan menghidupkan kita dengan ruh di dalam wujud ini. Ia akan  memperlihatkan kita dengan keimanan dan cinta dan kita akan benar-benar bening suci hingga ruh kita berpelukan dan memuliakan Allah dan menjadi dekat kepada malaikat. Kebersamaan itu membuat tempat menjadi tidak ada dan membuat waktu tidak berwujud dan sekilas kebersamaan kita bagaikan meringkas segala keabadian. Ia membuat kita hidup dalam surga Allah di bumi hingga kita bertolak dari sana menuju surga Allah di langit. Ia menjadikan kita berjalan dalam kemuliaan  ruh kita yang terkuat tanpa batas dari segala garis dan halangan serta segala peraturan dunia.

Melesatlah kepada ruh dan milikilah keyakinan bahwa engkau akan menghancurkan semua batasan ini kendala segala peraturan dunia. Menyatulah dengan keimanan dan cinta, maka engkau akan menjad petir yang menyambar, menyatukan dalam iman dan cinta, maka engkau akan menjadi petir.

Luapkan kekuatan daya nalarmu dengan menyatukan dalam iman dan cinta, engkau akan menemukan semua kekuatan yang disegani yang akan meruntuhkan semua hal di sekitarmu. Inilah aku berkobar di hadapanmu meskipun engkau terlihat menakutkan. Jika engkau membunuhku, maka aku akan bahagia bahwa aku dengan  kepercayaan dan cintaku bersih sampai mati. Aku telah hidup sepanjang umurku, semua menghisap ruhku karenamu, apakah aku harus bersedih sekarang jika engkau menghisap darahku?

(BOOK :Cinta Dalam Perspesktif Islam oleh Muhammad Ibrahim Mabrouk)

#Day(16)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah


30 HRDC Day 15 : Teman Di Dalam Dada


Terpakur pada atma yang sunyi; jauh dari jangkauan jari-jari Ilahi.

Dalam hitam kelam malam dalam sepi yang rindu.

Suara rintih dalam dada dahaganya hati tanpa-Mu,

Karena jiwa yang meronta, hampa segala tanpa cahaya-Mu.

Inginnya,

Mendekat dalam dekapan peluk hangat.

Tanpa celah, tapi hati masih begitu jauh.

Masih pantaskah, Kau masih berbaik hati pada insan pendosa?

Kuharap, segala amal yang tak seberapa ini menjadi akhir penolong pada diri.

Apakah hati menjadi keras sebab air mata tak jatuh dengan mudah?

Atau,

Sudah menjadi tameng pada jiwa yang ikhlas dan rela?

Karena diri tidak bisa membedakan.

Hati yang keras tertutup gumpalan noda warna hitam, ataukah hidup yang begitu keras dijalani sehingga rela dan ikhlas menjadi teman di dalam dada?

#Day(15)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah


30 HRDC Day 14 : Bunga Teratai


Berdentik jam berbunyi menjadi alarm membuatku segera bergegas.
Ditengah hiruk-piruk kendaraan jalan raya kumemandang dengan tampak biasa, tanpa senyum ataupun memasang muka seolah abai.
Mungkin. Kebanyakan memandangku, si muka datar minim ekspresi, si puan tak menarik.
Aku sadar itu, dan aku terlalu peka untuk itu. Tak hayal persepsiku terkadang melesat jauh dari perkiraan.

Mungkin juga banyak menjadi pertanyaan di benak mereka, aku terlihat seperti puan dingin, terdiam dalam ilusi tak kasat mata berada di dekat tapi susah tuk digapai, menjadi sosok menyimpan banyak pertanyaan.

Aku paham pandangan ingin tahu itu. Tapi aku mencoba untuk menghindar dari pertanyaan yang mengusik.
Mungkin juga, mereka memandang. Si puan sombong bermuka innociot. Si puan tak peduli dan cuek bertemeng muka kalem.

Oke, yang mereka suarakan tidak buruk. Hanya saja mereka tidak tahu dibalik sikap seseorang seperti itu. Bisa saja dia sibuk bertengkar dengan dirinya sendiri.
Mungkin saja dipikiran mereka, si puan taat dalam ibadah. Suci tanpa noda.

Hanya saja mereka tidak tahu, begitu belum khusuknya dalam segala hal itu.
Mungkin juga mereka berpikir, si puan introvert malu dalam bergaul.
Mereka tidak begitu tahu,begitu sukanya aku berada ditengah-tengah interaksi orang banyak bercakap-cakap dengan siapapun. Membuatku merasa sangat bersyukur berkumpul ditengah-tengah mereka.

Seperti perumpaan bunga mawar ketika hendak disentuh duri tajam menikam hingga nyeri menjalar urat-urat jari.

Mungkin perumpaan yang cocok seperti bunga teratai. Terlihat tenang dan anggun tetapi ketika ingin didekati melewati jalan yang tak mudah. Kurang lebih si puan ini seperti itu.

#Day(14)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah


30 HRDC Day 13 : Cuap-Cuap


Bismillahirrohmanirohim,

Hai, selamat pagi. Apa kabar untuk hari ini? Bagaimana puasanya, berjalan dengan baik?

Semoga awal berjalan sampai puncak berakhirnya Ramadhan ini, segala amal baik dilipat gandakan Sang Pemberi Kehidupan ya, dan segala perbuatan yang buruk Allah ampuni, Aamiin.

Mau tahu dong, ada ngga Ramdhan kali ini dengan Ramadhan tahun lalu sesi yang berbeda?
Yah, misal Ramadhan tahun lalu sahur, berbuka sampe ngabuburit bareng keluarga, orang tua adik-adik sanak keluarga terdekat. Eh, tahun sekarang ngga gitu.

Apakah ada perbedaan?

Dan, dibulan Ramadhan kali ini, apa sih yang membuat Ramadhan kali ini dari sebelumnya istimewa, yang membekas? Lagi pertengahan puasa sih, tapi siapa tahu teman-teman punya moment  yang susah untuk ditinggalkan hingga menjadi kenangan yang sangat hangat.

Yang namanya melaksanakan puasa satu bulan full pasti ngga mudah ya? Yang terbiasa puasa sunnah mungkin-bukan hanya sekadar mungkin tapi pasti, bagi mereka ini adalah poin menambah amal pahala bagi mereka dan sudah menjadi kebiasaan yang menyenangkan.

Tetapi, beda halnya dengan mereka yang puasa ketika bulan seperti Ramadhan kali ini puasanya Allah terima. Setelah Imsyak meraung menyuarakan suaranya hingga adzan berkumandang pasti ada saja di saat-saat seperti itu, pernah merasakan emosi tertahan di dalam dada, pernah ngga?

Saat suara sang Ibu menyambut di seberang telepon, padahal air mata pengen turut. Tapi pada akhirnya di tahan takut menodai puasa di jalani, pernah?
Saat teman berinteraksi tanpa sengaja mencolek di dasar dada dengan perkataan serta perbuatan yang membuat kita menahan dengan balasan tersenyum dengan getir, pernah?

Kita berharap bersama-sama semoga cinta Sang Kekasih menjadi milik kita hamba yang sentiasa mengucap maaf.
SEMOGA BERHASIL!!

#Day(13)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah


30 HRDC Day 2 : Tolong

Allahummasolli’Ala Sayyidina Muhammad Wa’Ala’alihi Muhammad Allahummasolli’Ala Sayyidina Muhammad Wa’Ala’alihi Muhammad Aku hidup berdua ...