Berdentik
jam berbunyi menjadi alarm membuatku segera bergegas.
Ditengah
hiruk-piruk kendaraan jalan raya kumemandang dengan tampak biasa, tanpa senyum
ataupun memasang muka seolah abai.
Mungkin.
Kebanyakan memandangku, si muka datar minim ekspresi, si puan tak menarik.
Aku
sadar itu, dan aku terlalu peka untuk itu. Tak hayal persepsiku terkadang
melesat jauh dari perkiraan.
Mungkin
juga banyak menjadi pertanyaan di benak mereka, aku terlihat seperti puan
dingin, terdiam dalam ilusi tak kasat mata berada di dekat tapi susah tuk
digapai, menjadi sosok menyimpan banyak pertanyaan.
Aku
paham pandangan ingin tahu itu. Tapi aku mencoba untuk menghindar dari
pertanyaan yang mengusik.
Mungkin
juga, mereka memandang. Si puan sombong bermuka innociot. Si puan tak peduli dan cuek bertemeng muka kalem.
Oke,
yang mereka suarakan tidak buruk. Hanya saja mereka tidak tahu dibalik sikap
seseorang seperti itu. Bisa saja dia sibuk bertengkar dengan dirinya sendiri.
Mungkin
saja dipikiran mereka, si puan taat dalam ibadah. Suci tanpa noda.
Hanya
saja mereka tidak tahu, begitu belum khusuknya dalam segala hal itu.
Mungkin
juga mereka berpikir, si puan introvert malu dalam bergaul.
Mereka
tidak begitu tahu,begitu sukanya aku berada ditengah-tengah interaksi orang
banyak bercakap-cakap dengan siapapun. Membuatku merasa sangat bersyukur
berkumpul ditengah-tengah mereka.
Seperti
perumpaan bunga mawar ketika hendak disentuh duri tajam menikam hingga nyeri
menjalar urat-urat jari.
Mungkin
perumpaan yang cocok seperti bunga teratai. Terlihat tenang dan anggun tetapi
ketika ingin didekati melewati jalan yang tak mudah. Kurang lebih si puan ini
seperti itu.
#Day(14)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar