Keadaan seorang pecinta
yang negatif seolah akan berkata begini:
Wahai
tuanku, telah begitu lama aku terpuruk di jalan untuk dapat menggapaimu, engkau
melihatnya dalam pandangan matamu yang mudah, sedang aku melihatnya sebagai
suatu kemustahilan. Wahai tuanku, aku tidak memiliki kekuatanmu dan aku tidak
memiliki lagi kemampuan untuk berperang. Berapa banyak telah terkoyak, berapa
banyak telah terhisap dan berapa banyak telah terbakar hangus.
Neraka
kehidupanku dalam kegelapan yang tidak mampu aku jalani dan neraka cintaku
bermimpi yang tidak aku sanggup untuk merealisasikannya. Setiap kali aku
memejamkan mataku untuk membenamkan diri dalam semua yang menghilangkan perasaan yang sebenarnya, sehingga aku
benar-benar terbius dan berpuar-putar dalam tangkai neraka yang aku jalani, aku
menemukan keagungan dan kegagahan-Mu menyambarku bagai petir dan merobek
mendung keterbiusan dalam mataku. Maka,
aku melihat kehidupan seolah neraka yang tak seorangpun mampu menaggungnya. Aku
berharap bisa meninggalkan semua kesedihan dalam diam. Aku berharap kepadamu
jangan lepas dari mataku mendung bius perasaan terbakarku. Aku berharap
meninggalkan ini semua, aku menyerah untuk beristirahat dalam surga
keputusasaan dan dalam lembutnya pasir. Jangan jadikan aku melihat matamu
menjadi cermin kepedihanku. Biarkan aku berlalu pada tempat penggalanku agar
aku tersembelih sekali lagi. Jangan menjerit karena aku, maka itu akan
menyembelihku seribu kali. Aku berharap... aku mohon... jangan menjerit karena
aku. Jika tidak, aku akan membunuhmu.
Sedangkan kenyataan
orang kasmaran yang positif seolah akan berkata begini:
Bangkitlah
dari tumpukan kenistaan dan kebususkan serta turunlah dari atas tiang salibmu
karena palu belum diayunkan. Keluarlah dari kotak kelemahanmu dan lepaskanlah
luapan percikan dirimu. Melompatlah kepada cahaya dan matahari atau tempat
sinaran, tumpukan semua haus dahaga ruhmu kepada keajaiban, kecantikan dan
keabadian. Bergelimanglah dengan cinta dan berhiaslah dalam cahay. Sekejap saja
engkau akan hidup dalam surga Allah di dunia.
Alangkah
indahnya kebersamaan. Ia akan menghidupkan kita dengan ruh di dalam wujud ini.
Ia akan memperlihatkan kita dengan
keimanan dan cinta dan kita akan benar-benar bening suci hingga ruh kita
berpelukan dan memuliakan Allah dan menjadi dekat kepada malaikat. Kebersamaan
itu membuat tempat menjadi tidak ada dan membuat waktu tidak berwujud dan
sekilas kebersamaan kita bagaikan meringkas segala keabadian. Ia membuat kita
hidup dalam surga Allah di bumi hingga kita bertolak dari sana menuju surga
Allah di langit. Ia menjadikan kita berjalan dalam kemuliaan ruh kita yang terkuat tanpa batas dari segala
garis dan halangan serta segala peraturan dunia.
Melesatlah
kepada ruh dan milikilah keyakinan bahwa engkau akan menghancurkan semua batasan
ini kendala segala peraturan dunia. Menyatulah dengan keimanan dan cinta, maka
engkau akan menjad petir yang menyambar, menyatukan dalam iman dan cinta, maka
engkau akan menjadi petir.
Luapkan
kekuatan daya nalarmu dengan menyatukan dalam iman dan cinta, engkau akan
menemukan semua kekuatan yang disegani yang akan meruntuhkan semua hal di
sekitarmu. Inilah aku berkobar di hadapanmu meskipun engkau terlihat
menakutkan. Jika engkau membunuhku, maka aku akan bahagia bahwa aku dengan kepercayaan dan cintaku bersih sampai mati.
Aku telah hidup sepanjang umurku, semua menghisap ruhku karenamu, apakah aku
harus bersedih sekarang jika engkau menghisap darahku?
(BOOK
:Cinta Dalam Perspesktif Islam oleh Muhammad Ibrahim Mabrouk)
#Day(16)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar