Kamis, 23 Mei 2019

30 HRDC Day 16 : Cinta Terbelenggu Nafsu Bukan Cinta Suci


Keadaan seorang pecinta yang negatif seolah akan berkata begini:

Wahai tuanku, telah begitu lama aku terpuruk di jalan untuk dapat menggapaimu, engkau melihatnya dalam pandangan matamu yang mudah, sedang aku melihatnya sebagai suatu kemustahilan. Wahai tuanku, aku tidak memiliki kekuatanmu dan aku tidak memiliki lagi kemampuan untuk berperang. Berapa banyak telah terkoyak, berapa banyak telah terhisap dan berapa banyak telah terbakar hangus.

Neraka kehidupanku dalam kegelapan yang tidak mampu aku jalani dan neraka cintaku bermimpi yang tidak aku sanggup untuk merealisasikannya. Setiap kali aku memejamkan mataku untuk membenamkan diri dalam semua yang menghilangkan  perasaan yang sebenarnya, sehingga aku benar-benar terbius dan berpuar-putar dalam tangkai neraka yang aku jalani, aku menemukan keagungan dan kegagahan-Mu menyambarku bagai petir dan merobek mendung keterbiusan dalam  mataku. Maka, aku melihat kehidupan seolah neraka yang tak seorangpun mampu menaggungnya. Aku berharap bisa meninggalkan semua kesedihan dalam diam. Aku berharap kepadamu jangan lepas dari mataku mendung bius perasaan terbakarku. Aku berharap meninggalkan ini semua, aku menyerah untuk beristirahat dalam surga keputusasaan dan dalam lembutnya pasir. Jangan jadikan aku melihat matamu menjadi cermin kepedihanku. Biarkan aku berlalu pada tempat penggalanku agar aku tersembelih sekali lagi. Jangan menjerit karena aku, maka itu akan menyembelihku seribu kali. Aku berharap... aku mohon... jangan menjerit karena aku. Jika tidak, aku akan membunuhmu.

Sedangkan kenyataan orang kasmaran yang positif seolah akan berkata begini:

Bangkitlah dari tumpukan kenistaan dan kebususkan serta turunlah dari atas tiang salibmu karena palu belum diayunkan. Keluarlah dari kotak kelemahanmu dan lepaskanlah luapan percikan dirimu. Melompatlah kepada cahaya dan matahari atau tempat sinaran, tumpukan semua haus dahaga ruhmu kepada keajaiban, kecantikan dan keabadian. Bergelimanglah dengan cinta dan berhiaslah dalam cahay. Sekejap saja engkau akan hidup dalam surga Allah di dunia.

Alangkah indahnya kebersamaan. Ia akan menghidupkan kita dengan ruh di dalam wujud ini. Ia akan  memperlihatkan kita dengan keimanan dan cinta dan kita akan benar-benar bening suci hingga ruh kita berpelukan dan memuliakan Allah dan menjadi dekat kepada malaikat. Kebersamaan itu membuat tempat menjadi tidak ada dan membuat waktu tidak berwujud dan sekilas kebersamaan kita bagaikan meringkas segala keabadian. Ia membuat kita hidup dalam surga Allah di bumi hingga kita bertolak dari sana menuju surga Allah di langit. Ia menjadikan kita berjalan dalam kemuliaan  ruh kita yang terkuat tanpa batas dari segala garis dan halangan serta segala peraturan dunia.

Melesatlah kepada ruh dan milikilah keyakinan bahwa engkau akan menghancurkan semua batasan ini kendala segala peraturan dunia. Menyatulah dengan keimanan dan cinta, maka engkau akan menjad petir yang menyambar, menyatukan dalam iman dan cinta, maka engkau akan menjadi petir.

Luapkan kekuatan daya nalarmu dengan menyatukan dalam iman dan cinta, engkau akan menemukan semua kekuatan yang disegani yang akan meruntuhkan semua hal di sekitarmu. Inilah aku berkobar di hadapanmu meskipun engkau terlihat menakutkan. Jika engkau membunuhku, maka aku akan bahagia bahwa aku dengan  kepercayaan dan cintaku bersih sampai mati. Aku telah hidup sepanjang umurku, semua menghisap ruhku karenamu, apakah aku harus bersedih sekarang jika engkau menghisap darahku?

(BOOK :Cinta Dalam Perspesktif Islam oleh Muhammad Ibrahim Mabrouk)

#Day(16)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

30 HRDC Day 2 : Tolong

Allahummasolli’Ala Sayyidina Muhammad Wa’Ala’alihi Muhammad Allahummasolli’Ala Sayyidina Muhammad Wa’Ala’alihi Muhammad Aku hidup berdua ...