Kamis, 23 Mei 2019

30 HRDC Day 18 : Kenapa Pertemuan Sesingkat Ini?


benar kata petuah teman mengatakan “Kalau rindu itu gangguan batin” “Kalau rindu tak abadi, tidak juga bisa hilang, sebab Tuhan menciptakan rindu untuk menguji”

Saat-saat rasa rindu itu menyapa, merasuki kulit subcutis terpantul oleh tulang hingga hinggap di jantung hati. Menggebu ingin bertemu; tetapi keadaan yang tidak mengijinkan. Kasmaran dalam waktu panjang hingga musim berganti, tahun berlalu, libur panjangpun mengucapkan selamat datang.

Kini, usaha tak selalu begitu mengecewakan. Sebab di atas Arsy tak pernah meninggalkan insan yang selalu meminta disertai usaha.

Akhirnya hari itu tiba, bertemu kekasih utama di dalam hati yang telah lama menyebut-nyebut namanya dalam lantunan doa. Rindupun akhirnya terbayar biarpun tak begitu banyak waktu. Hasrat ingin menjadi nyata. Telah lama menunggu. Akhirnya.

Ani, sebutlah begitu. Gadis yang sekarang duduk di semester 6 ini melewati satu tempat ke tempat satu demi menuntaskan hasrat ingin bertemu rindunya. Banyak hal baru yang ia temui dan menjadi pengalaman yang tak terlupakan baginya. Sebelum hari keberangkatannya ia sempat dilema karena tidak ada satupun menemaninya menunggu atau mengucapkan selamat jalan dan hati-hati atau kalimat sampai dengan selamat ditujuan.

Setelah memasuki pintu masuk, berbondong-bondong manusia saling berdesak-desakkan mengikuti arah yang ditunjukkan petugas kapal hingga sampai di tempat untuknya beristirahat sampai kapal menyangkutkan jaringnya di tempat tujuan.

Seorang diri tanpa kenalan satupun ia seperti orang asing di tengah manusia yang punya pasangan dalam perjalanan mereka, sudah begitu bagian tempat istirahatnya bagian paling pojok, kalau petugas kapal yang mengangkat barang lewat, dirinya didzolimi dengan berkarung-karung berisi barang itu, hingga mengenai tubuh tak berdosanya, serta bau menyengat yang tak sedap. Ples pasangan sejoli orang tua di sampingnya menampilkan love love melayang di sekitar keduanya. Nih ya, itu nenek-nenek seperti cemburu sama aku(Ani) sebelumnya itu kakek-kakek kalau tiduran posisinya di tengah, antara aku dan nenek itu(istri kakek) bak kembali di masa remaja jatuh cinta itu nenek-nenek mengatakan dengan kesal biarkan dia saja(nenek) berada di tengah dan suaminya berada di samping kanannya. Melihat istrinya(nenek) kesal kakek itu senyum sambil merayu istrinya jujur aku tidak mengerti apa yang mereka katakan. Aku tersenyum kecut melihat interaksi kedua orang tua itu. “Nebar-nebar romantis di sini lagi tuh orang tua, ngga lihat kondisi apa, sendiri nih aku. Apes dah”

Pengumuman terdengar di seluruh pengeras suara di kapal itu, mengatakan tidak lama lagi kapal sampai di tempat tujuan mereka. Sore, tidak begitu perhatikan jam berapa mereka semua sampai. Setelah keluar dari pintu, barang yang ia bawa telah diamankan entahlah di mana yang jelas orang suruhan yang ditugaskan untuk mereka yang ilegal. Yaps, tujuanku negeri seberang mendatangi rindu yang telah menunggu dengan cemas. Sembunyi-sembunyi seperti buronan, tegang seperti adegan dalam cerita thiler. Kami dikumpul menjadi beberapa kelompok di arahkan segera memasuki sebuah rumah terlihat seperti rumah tua yang tak berpenghuni, orang yang berdiri di depan sana berbicara tegas namun pelan mengatakan untuk diam sebentar sampai polisi-polisi di luar sana telah pergi dan keadaan aman. Aku melihat di sekeliling tempat ini dan orang-orang yang memasang muka tegang serta berbicara dengan bisikan, salah seorang bapak-bapak menyuruhku duduk dikursi di belakang aku, akupun menduduki kursi itu tetapi melihat hanya aku yang duduk di atas sedangkan yang lain di bawah aku kembali ditempatku semula. Memperhatikan kembali disekitar mataku menangkap sepasang mata mengarah di sekitarku, aku yang merasa diperhatikan lantas melempar senyum tipis kepada pemuda itu. Seperti angin sedingin es dan setajam sembilu;perih. Itu orang tanpa balasan memalingkan wajah dan berbicara dengan anak kecil di sampingnya. Oke, tulisan warna merah disematkan untuk dia; cuek dan sombong.

Kesadaran menarikku pada keadaan yang sedang menghimpit. Bapak-bapak yang sebelumnya menyuruhku duduk dikursi tadi mengatakan segera keluar keadaan di luar telah aman. Berbondong-bondong manusia di depanku keluar dan menaiki perahu tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil artinya panjang kali tinggi kali lebar perahu sedang ini; kami menaiki. Sebanyak 30 orang atau mungkin lebih saling berdempet-dempetan, yang seharusnya hanya sampai 25 orang dalam perahu, sudah di isi sebanyak mencengkik badan. Bapak-bapak pemilik perahu songong sih, sok jagoan. Akhirnya apa yang terjadi membawa kendaraan tanpa perhitungan, tahu dah ini laut tapi bisa santai kali jangan ngegas. 

Alampun seakan mendukung langit warna kehitaman(hitam abu-abu) angin meniup dengan kencang, burung-burung terbang jauh entah pergi di mana. “Pertanda buruk” itu dipikiranku, komat kamit bibirku mengucapkan istigfar berdoa di dalam hati Allah sebagai pelindung. Suara ibu-ibu di depanku yang mengendong anaknya berkata “Jangan takut nak, saya sudah berapa kali melewati ini, semua baik-baik saja, tidak berguna itu istigfarmu. Nanti ada apa-apa saya panggil itu anak-anakku di bawah air, keluargaku yang telah meninggal untuk datang membantu kita kalau terjadi sesuatu yang buruk. Tenang jangan takut” aku hanya memandang dengan muka bodoh amat udah keburu jantungan nih dengan keadaan seperti ini. 

Keadaan semakin menjadi, percikan airpun mengenai orang-orang yang berada dibelakang, si pak tua pembawa perahu songong itu menyuruh orang yang berada di depan maju diikuti orang-orang di belakang, angin semakin kencang hujan kecil-kecil mulai berjatuhan perahu goyang-goyang kena terpaan angin membuat ibu-ibu berteriak dengan kaget dan histeris anak dalam gendongan ibu yang berbicara di denganku tadi menangis, aku semakin takut “Mati ini, mati ini” pikirku lagi, tanganku yang berada di samping perahu aku lepaskan, aku tidak ingin terpelanting keluar dari perahu dan gentayangan menjadi arwah tersesat tak tahu arah jalan pulang. Jika itu terjadi orang pertama yang aku datangi pak tua pemilik perahu yang songong itu duluan kudatangi. 

Teriak bapak-bapak di bagian depan membuat jantungku memompa dengan cepat “Astaga. Astaga. Alamat mati benaran ini” pikirku kembali, tanpa pikir panjang satu tanganku memegang tangan pemuda di sampingku dengan kepala menghadap keluar perahu. Hampir 1 menit tidak ada reaksi penolakan dari pemuda itu aku mengintip melalui lirikan mataku, bak kesatria di panglima perang badannya lurus menghadap di depan dengan tegak seakan keadaan yang sedang terjadi tidak membuat ia gentar, bak batu kokoh berdiri di tengah-tengah keributan diam tanpa reaksi. “Ini orang manusia batu kah?” pikirku, amukan laut membuat perahu yang kami tumpangi semakin bergoyang orang-orang semakin maju saling sesak, demi keselamatan hidupku kedua tanganku secara sempurna menjadikan tangan pemuda di sampingku sebagai penompang dari amukan keadaan di perahu ini. Aku menolehkan kepalaku menghadap pemuda tadi seperti tersambar petir dia tersenyum padaku “Inikan laki-laki yang cuek dan sombong tadi, bisa juga dia tersenyum” aku membalas dengan senyum singkat, langsung menoleh saat ibu-ibu rempong di depanku ini berbicara “Nak, bagaimana mi ini”
takutkan lo bu, panggil itu arwah untuk minta tolong” suara dalam pikiran, ngga berani deng menyuaran secara langsung bisa dilempar di luar secara tidak manusia nanti sama ibu ini .
“Ucap istigfar ibu, baca surah-surah pendek” ucapku dengan wajah masih panik.
“Tapi ayat apa” nih ibu satu.
“Apa saja ibu, yang ibu tau”

Entah sekarang kami berada di laut mana, tanpa kehidupan, hanya hutan di dapati sepanjang perjalanan menuju tempat tujuan. Aku melihat pemuda di sampingku tangan satunya di tarik ibu-ibu di belakang, menjadikan tangan itu sebagai pegangan. Aku perhatikan dengan seksama ini cowok keren mengenakan jaket berbahan dari plastik? Kulit? Pokoknya jenis jaket yang bagus, celana levis mulus serta sepatu bersih tanpa noda cemerlang tak lupa rambut di tata dengan elit terlihat sedikit jabrik, penampilan sempurna di tata dengan baik dan rapi yang buat aku terpana melupakan daratan sejanak alis hitam dan tebalnya, ini orang terlihat maco. Di tambah sikap tenang dan coolnya dalam keadaan seperti ini membuat aku jatuh kembali di dasar muara di tumbuhi bunga-bunga indah.

“Nak-nak tolong carikan dompet ibu, semua duit, kartu dan yang penting di sana semua. Di mana yah” nih ibu rempong satu menghancurkan imajinasiku saja. Lama sekali, hingga keadaan mulai membaik dan sudah mendekati sampai ke tujuan. Barulah itu dompet ibu rempong ketemu kami sampai dalam keadaan selamat sentausa. Sama halnya menaiki perahu, orang-orang di dalam perahu berondong-bondong saling ingin duluan sampai di rumah yang perahu kami singgahi. Aku yang melihat hanya menunggu dengan sabar di bagian belakang, pemuda yang tadi-berada di belakangku, seakan melindungi aku dari orang-orang yang tidak sabaran ingin segera mencapai rumah. Dengan gesit pemuda itu berada di depanku “Pak, pak gantian sama ini perempuan dari tadi dia menunggu” tanpa memikirkan si bapak yang di ajak bicara dia mengulurkan tangannya untukku gapai “Romantisnya” pikirku, tanpa membuat yang lain semakin menunggu dan membuyarkan segera imajinasi yang mulai berkeliaran dengan segera aku meraih tangannya. Setelah sampai di pelataran rumah aku menunggu pemuda tadi ingin mengucapkan terima kasih.

Setelah semua naik dengan selamat pemuda tadi menghampiriku “Kamu tidak apa-apa?” Aduh mamasayange nih cowok buat seluruh anggota tubuhku panas seketika, boleh bawa pulang ngga sih diseret ke KUA. Aku menganggung menaggapi ucapannya saat ingin melontarkan terima kasih secara ajaib ibu rempong tadi memelukku dengan erat “Kita selamat nak” ucapnya, aku membalas dengan senyum lega tulusku untuk ibu itu. Seraya berkata “Iya”. Ibu rempong melonggarkan pelukannya dan mengajakku masuk ke dalam rumah yang kutanggapi dengan anggungkan kepala, aku menoleh di tempat pemuda tadi berdiri sudah tidak ada, aku melihat dia memasuki rumah di sebelah rumah yang kutempati. “Beda ya?” pikirku, ternyata di dalam perahu yang kami tumpangi yang dikemudi pak tua songong tadi tujuan akhirnya berbeda aku pergi Selatan sedangkan dia Timur. Kenapa pertemuan sesingkat ini?

(PERHATIAN MEMBER : This True Story, ini cerita teman aku. Dan cerita ini nyata ngga aku buat-buat setiap percakapanya untuk deskripsi aku campur bumbu aja sih tapi itu real, teman aku udah lama banget cerita ini sebelum puasa. Sumpah pas teman aku cerita ini itu buat aku ketawa kek pikiranku. Masa sih? Betulan? Aku mau ketemu itu cowok, secool apa sih itu cowok. Ingat oppa-oppa Korea itu cowok punya alis mata tebal(sumpah). Ini aja nulisnya sampai ketawa sendiri ingat kembali yang teman aku ceritakan. Dan jadilah ini cerita. Sebenarnya masih ada lanjutan sih tapi ngga penting amat setelahnya karena ngga ada itu cowok (wkwk) Ohya rindu yang aku maksud tadi itu keluarga teman aku).

#Day(18)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

30 HRDC Day 2 : Tolong

Allahummasolli’Ala Sayyidina Muhammad Wa’Ala’alihi Muhammad Allahummasolli’Ala Sayyidina Muhammad Wa’Ala’alihi Muhammad Aku hidup berdua ...