benar
kata petuah teman mengatakan “Kalau rindu
itu gangguan batin” “Kalau rindu tak abadi, tidak juga bisa hilang, sebab Tuhan
menciptakan rindu untuk menguji”
Saat-saat
rasa rindu itu menyapa, merasuki kulit subcutis terpantul oleh tulang hingga
hinggap di jantung hati. Menggebu ingin bertemu; tetapi keadaan yang tidak
mengijinkan. Kasmaran dalam waktu panjang hingga musim berganti, tahun berlalu,
libur panjangpun mengucapkan selamat datang.
Kini,
usaha tak selalu begitu mengecewakan. Sebab di atas Arsy tak pernah
meninggalkan insan yang selalu meminta disertai usaha.
Akhirnya
hari itu tiba, bertemu kekasih utama di dalam hati yang telah lama
menyebut-nyebut namanya dalam lantunan doa. Rindupun akhirnya terbayar biarpun
tak begitu banyak waktu. Hasrat ingin menjadi nyata. Telah lama menunggu.
Akhirnya.
Ani,
sebutlah begitu. Gadis yang sekarang duduk di semester 6 ini melewati satu
tempat ke tempat satu demi menuntaskan hasrat ingin bertemu rindunya. Banyak
hal baru yang ia temui dan menjadi pengalaman yang tak terlupakan baginya.
Sebelum hari keberangkatannya ia sempat dilema karena tidak ada satupun
menemaninya menunggu atau mengucapkan selamat jalan dan hati-hati atau kalimat
sampai dengan selamat ditujuan.
Setelah
memasuki pintu masuk, berbondong-bondong manusia saling berdesak-desakkan
mengikuti arah yang ditunjukkan petugas kapal hingga sampai di tempat untuknya
beristirahat sampai kapal menyangkutkan jaringnya di tempat tujuan.
Seorang
diri tanpa kenalan satupun ia seperti orang asing di tengah manusia yang punya
pasangan dalam perjalanan mereka, sudah begitu bagian tempat istirahatnya
bagian paling pojok, kalau petugas kapal yang mengangkat barang lewat, dirinya
didzolimi dengan berkarung-karung berisi barang itu, hingga mengenai tubuh tak
berdosanya, serta bau menyengat yang tak sedap. Ples pasangan sejoli orang tua di sampingnya menampilkan love love melayang di sekitar keduanya.
Nih ya, itu nenek-nenek seperti cemburu sama aku(Ani) sebelumnya itu kakek-kakek
kalau tiduran posisinya di tengah, antara aku dan nenek itu(istri kakek) bak
kembali di masa remaja jatuh cinta itu nenek-nenek mengatakan dengan kesal
biarkan dia saja(nenek) berada di tengah dan suaminya berada di samping
kanannya. Melihat istrinya(nenek) kesal kakek itu senyum sambil merayu istrinya
jujur aku tidak mengerti apa yang mereka katakan. Aku tersenyum kecut melihat
interaksi kedua orang tua itu. “Nebar-nebar
romantis di sini lagi tuh orang tua, ngga lihat kondisi apa, sendiri nih aku.
Apes dah”
Pengumuman
terdengar di seluruh pengeras suara di kapal itu, mengatakan tidak lama lagi
kapal sampai di tempat tujuan mereka. Sore, tidak begitu perhatikan jam berapa
mereka semua sampai. Setelah keluar dari pintu, barang yang ia bawa telah
diamankan entahlah di mana yang jelas orang suruhan yang ditugaskan untuk
mereka yang ilegal. Yaps, tujuanku negeri seberang mendatangi rindu yang telah
menunggu dengan cemas. Sembunyi-sembunyi seperti buronan, tegang seperti adegan
dalam cerita thiler. Kami dikumpul menjadi beberapa kelompok di arahkan segera
memasuki sebuah rumah terlihat seperti rumah tua yang tak berpenghuni, orang
yang berdiri di depan sana berbicara tegas namun pelan mengatakan untuk diam
sebentar sampai polisi-polisi di luar sana telah pergi dan keadaan aman. Aku
melihat di sekeliling tempat ini dan orang-orang yang memasang muka tegang
serta berbicara dengan bisikan, salah seorang bapak-bapak menyuruhku duduk dikursi
di belakang aku, akupun menduduki kursi itu tetapi melihat hanya aku yang duduk
di atas sedangkan yang lain di bawah aku kembali ditempatku semula. Memperhatikan
kembali disekitar mataku menangkap sepasang mata mengarah di sekitarku, aku
yang merasa diperhatikan lantas melempar senyum tipis kepada pemuda itu.
Seperti angin sedingin es dan setajam sembilu;perih. Itu orang tanpa balasan
memalingkan wajah dan berbicara dengan anak kecil di sampingnya. Oke, tulisan
warna merah disematkan untuk dia; cuek dan sombong.
Kesadaran
menarikku pada keadaan yang sedang menghimpit. Bapak-bapak yang sebelumnya
menyuruhku duduk dikursi tadi mengatakan segera keluar keadaan di luar telah
aman. Berbondong-bondong manusia di depanku keluar dan menaiki perahu tidak
terlalu besar dan tidak terlalu kecil artinya panjang kali tinggi kali lebar
perahu sedang ini; kami menaiki. Sebanyak 30 orang atau mungkin lebih saling
berdempet-dempetan, yang seharusnya hanya sampai 25 orang dalam perahu, sudah
di isi sebanyak mencengkik badan. Bapak-bapak pemilik perahu songong sih, sok
jagoan. Akhirnya apa yang terjadi membawa kendaraan tanpa perhitungan, tahu dah
ini laut tapi bisa santai kali jangan ngegas.
Alampun seakan mendukung langit
warna kehitaman(hitam abu-abu) angin meniup dengan kencang, burung-burung
terbang jauh entah pergi di mana. “Pertanda
buruk” itu dipikiranku, komat kamit bibirku mengucapkan istigfar berdoa di
dalam hati Allah sebagai pelindung. Suara ibu-ibu di depanku yang mengendong
anaknya berkata “Jangan takut nak, saya sudah berapa kali melewati ini, semua
baik-baik saja, tidak berguna itu istigfarmu. Nanti ada apa-apa saya panggil
itu anak-anakku di bawah air, keluargaku yang telah meninggal untuk datang
membantu kita kalau terjadi sesuatu yang buruk. Tenang jangan takut” aku hanya
memandang dengan muka bodoh amat udah keburu jantungan nih dengan keadaan
seperti ini.
Keadaan semakin menjadi, percikan airpun mengenai orang-orang yang
berada dibelakang, si pak tua pembawa perahu songong itu menyuruh orang yang
berada di depan maju diikuti orang-orang di belakang, angin semakin kencang
hujan kecil-kecil mulai berjatuhan perahu goyang-goyang kena terpaan angin
membuat ibu-ibu berteriak dengan kaget dan histeris anak dalam gendongan ibu
yang berbicara di denganku tadi menangis, aku semakin takut “Mati ini, mati ini” pikirku lagi,
tanganku yang berada di samping perahu aku lepaskan, aku tidak ingin
terpelanting keluar dari perahu dan gentayangan menjadi arwah tersesat tak tahu
arah jalan pulang. Jika itu terjadi orang pertama yang aku datangi pak tua
pemilik perahu yang songong itu duluan kudatangi.
Teriak bapak-bapak di bagian
depan membuat jantungku memompa dengan cepat “Astaga. Astaga. Alamat mati benaran ini” pikirku kembali, tanpa
pikir panjang satu tanganku memegang tangan pemuda di sampingku dengan kepala
menghadap keluar perahu. Hampir 1 menit tidak ada reaksi penolakan dari pemuda
itu aku mengintip melalui lirikan mataku, bak kesatria di panglima perang
badannya lurus menghadap di depan dengan tegak seakan keadaan yang sedang
terjadi tidak membuat ia gentar, bak batu kokoh berdiri di tengah-tengah
keributan diam tanpa reaksi. “Ini orang
manusia batu kah?” pikirku, amukan laut membuat perahu yang kami tumpangi
semakin bergoyang orang-orang semakin maju saling sesak, demi keselamatan
hidupku kedua tanganku secara sempurna menjadikan tangan pemuda di sampingku
sebagai penompang dari amukan keadaan di perahu ini. Aku menolehkan kepalaku
menghadap pemuda tadi seperti tersambar petir dia tersenyum padaku “Inikan laki-laki yang cuek dan sombong tadi,
bisa juga dia tersenyum” aku membalas dengan senyum singkat, langsung
menoleh saat ibu-ibu rempong di depanku ini berbicara “Nak, bagaimana mi ini”
“takutkan lo bu, panggil itu arwah untuk
minta tolong” suara dalam pikiran, ngga berani deng menyuaran secara
langsung bisa dilempar di luar secara tidak manusia nanti sama ibu ini .
“Ucap
istigfar ibu, baca surah-surah pendek” ucapku dengan wajah masih panik.
“Tapi
ayat apa” nih ibu satu.
“Apa
saja ibu, yang ibu tau”
Entah
sekarang kami berada di laut mana, tanpa kehidupan, hanya hutan di dapati
sepanjang perjalanan menuju tempat tujuan. Aku melihat pemuda di sampingku
tangan satunya di tarik ibu-ibu di belakang, menjadikan tangan itu sebagai
pegangan. Aku perhatikan dengan seksama ini cowok keren mengenakan jaket
berbahan dari plastik? Kulit? Pokoknya jenis jaket yang bagus, celana levis
mulus serta sepatu bersih tanpa noda cemerlang tak lupa rambut di tata dengan
elit terlihat sedikit jabrik, penampilan sempurna di tata dengan baik dan rapi
yang buat aku terpana melupakan daratan sejanak alis hitam dan tebalnya, ini
orang terlihat maco. Di tambah sikap tenang dan coolnya dalam keadaan seperti ini membuat aku jatuh kembali di
dasar muara di tumbuhi bunga-bunga indah.
“Nak-nak
tolong carikan dompet ibu, semua duit, kartu dan yang penting di sana semua. Di
mana yah” nih ibu rempong satu menghancurkan imajinasiku saja. Lama sekali,
hingga keadaan mulai membaik dan sudah mendekati sampai ke tujuan. Barulah itu
dompet ibu rempong ketemu kami sampai dalam keadaan selamat sentausa. Sama
halnya menaiki perahu, orang-orang di dalam perahu berondong-bondong saling
ingin duluan sampai di rumah yang perahu kami singgahi. Aku yang melihat hanya
menunggu dengan sabar di bagian belakang, pemuda yang tadi-berada di belakangku,
seakan melindungi aku dari orang-orang yang tidak sabaran ingin segera mencapai
rumah. Dengan gesit pemuda itu berada di depanku “Pak, pak gantian sama ini
perempuan dari tadi dia menunggu” tanpa memikirkan si bapak yang di ajak bicara
dia mengulurkan tangannya untukku gapai “Romantisnya”
pikirku, tanpa membuat yang lain semakin menunggu dan membuyarkan segera
imajinasi yang mulai berkeliaran dengan segera aku meraih tangannya. Setelah
sampai di pelataran rumah aku menunggu pemuda tadi ingin mengucapkan terima
kasih.
Setelah
semua naik dengan selamat pemuda tadi menghampiriku “Kamu tidak apa-apa?” Aduh mamasayange nih cowok buat seluruh
anggota tubuhku panas seketika, boleh bawa pulang ngga sih diseret ke KUA. Aku
menganggung menaggapi ucapannya saat ingin melontarkan terima kasih secara
ajaib ibu rempong tadi memelukku dengan erat “Kita selamat nak” ucapnya, aku membalas
dengan senyum lega tulusku untuk ibu itu. Seraya berkata “Iya”. Ibu rempong
melonggarkan pelukannya dan mengajakku masuk ke dalam rumah yang kutanggapi
dengan anggungkan kepala, aku menoleh di tempat pemuda tadi berdiri sudah tidak
ada, aku melihat dia memasuki rumah di sebelah rumah yang kutempati. “Beda ya?” pikirku, ternyata di dalam
perahu yang kami tumpangi yang dikemudi pak tua songong tadi tujuan akhirnya
berbeda aku pergi Selatan sedangkan dia Timur. Kenapa pertemuan sesingkat ini?
(PERHATIAN
MEMBER : This True Story, ini cerita teman aku. Dan cerita ini nyata ngga aku
buat-buat setiap percakapanya untuk deskripsi aku campur bumbu aja sih tapi itu
real, teman aku udah lama banget cerita ini sebelum puasa. Sumpah pas teman aku
cerita ini itu buat aku ketawa kek pikiranku. Masa sih? Betulan? Aku mau ketemu
itu cowok, secool apa sih itu cowok.
Ingat oppa-oppa Korea itu cowok punya alis mata tebal(sumpah). Ini aja nulisnya
sampai ketawa sendiri ingat kembali yang teman aku ceritakan. Dan jadilah ini
cerita. Sebenarnya masih ada lanjutan sih tapi ngga penting amat setelahnya
karena ngga ada itu cowok (wkwk) Ohya rindu yang aku maksud tadi itu keluarga
teman aku).
#Day(18)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar