Minggu, 26 Mei 2019

30 HRDC Day 21 : Bahwasanya

Embusan angin meniup wajah alam. Mataku tak berkedip menatap langit. Terlalu luas tak bertepi pandang. Bisakah aku menyentuh awan?

Perwaktu-waktu aku mengasuh rasa. Mendengarkan jiwaku berkata-kata. Tak mungkin aku abaikan kata hati. Kuharus jujur pada hatiku.

Sejauh kaki melangkah, berlayar menuju tujuan. Terbang hingga melayang angkasa. Aku rasa itu inginku. Tetapi mengapa masih risau?

Berkumpul bersama orang-orang terpandang, berbicara pengalaman banyak hal hingga tengah malam menjemput. Rehat sejenak menyambut aktivitas esok hari. Diam dengan mata terbuka lebar di atas ranjang. Tetapi mengapa itu semua tidak membuat aku senang?

Makan berbagai jenis makanan. Makanan favoritku salah satu menu yang disediakan hingga sendawa menutup rasa dahaga. Tetapi mengapa batinku bergejolak menolong kepuasan itu?

Aku mencari kesenangan lain. Belajar tanpa henti. Puluhan novel aku baca tuntas dalam hitungan hari dan bulan. Puluhan buku pengetahuan aku baca tuntas dalam waktu sekejap. Aku menulis apa saja karena menurut salah satu ahli dan pendapat beberapa orang terkemuka mengatakan menulis membuatmu merasa tenang menuntaskan jiwa yang berkabut, tetapi hasilnya? aku tetap merasa ada yang kurang. Tetapi apa?

Aku menjalani hari-hari seperti manusia lain. Beraktivitas dan berinteraksi bertemu berbagai manusia baru karena aku menyukai hal seperti itu. Suatu kebetulan atau jalan yang telah Tuhan rencanakan, aku bertemu alim agama disebuah perpustakaan pusat kota. Kami duduk bersisian, dia sama halnya seperti bapak-bapak pada umumnya hanya saja pakaiannya lebih modis tidak menyangka dia seorang alim agama. Dia membaca buku ukuran setebal 200-300san dengan bantuan kacamata dan satu buku disisi kanannya dengan ukuran yang sama dengan dia baca.

Aku mengamati dengan seksama lantas dia menolehkan kepalanya kepadaku sambil tersenyum dia berkata “Apa yang kau baca nak?” akupun membalas dengan senyum serupa lantas berkata “Sebuah novel pak” dia mengalihkan perhatiannya kepada buku dalam genggamanku “Iblis Menggugat Tuhan?” diapun kembali fokus dalam bukunya sambil berkata “Ketahuilah nak, banyak orang cerdas dan pintar di luar sana tetapi perihal agama dia tidak capai dalam dirinya. Dia sama halnya dengan iblis menentang Tuhan saat bersujud kepada Adam. Kenapa?” diapun kembali menolehkan kepalanya menghadapku “Karena sombong menjadi teman dalam egonya. Tidak tahu diri, Tuhan telah menciptakan dia padahal dia tahu tentang itu”

“Tapi pak, kenapa Tuhan ciptakan manusia sedang DIA tahu pada akhirnya manusia akan berbuat binasa pada diri mereka sendiri. Tidak cukupkah manusia terdahulu sebagai pelajaran”

Diapun menyimpan bukunya diatas meja dan menutupnya sambil tersenyum seraya berkata “Maka dari itu, begitu Maha Esa-nya Tuhan telah meciptakan manusia terdahulu sebagai suatu pelajaran untuk kita jadikan patokan supaya kita tidak mengulang kesalahan mereka. Dan sebagai bukti untuk kita seluruh umat jika yang mereka perbuat selama hidup akan diminta pertanggung jawaban. Surga dan neraka itu nyata adanya. Dan Al-Qur’an telah menjelaskan semuanya. Lantas apa yang buat kamu ragu?”

Aku terdiam sejenak dalam dudukku mentatap buku dalam genggamanku. Bapak itu berdiri dan menepuk puncak kepalaku pelan “Nak, yang kamu butuh untuk hatimu yang tidak merasa puas itu hanya satu. Yaitu yakin bahwa Tuhan yang Maha Melihat dan Maha Mendengar selalu bersamamu. Bahwasannya manusia itu yang membutuhkan Tuhan-nya bukan Tuhan yang membutuhkan hamba-nya”

#Day(21)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

30 HRDC Day 2 : Tolong

Allahummasolli’Ala Sayyidina Muhammad Wa’Ala’alihi Muhammad Allahummasolli’Ala Sayyidina Muhammad Wa’Ala’alihi Muhammad Aku hidup berdua ...