Sebuah
syair seorang filosof sufi, ia berkata;
Jangan berkata padamu hati-hati...
jangan pergi, jangan pergi...
Sedang sekarang engkau telah pergi
Maka serahkan dirimu pada aruh
Syair
filosof ini memberikan peringatan ketika bepergian ke laut percintaa. Namun
ketika masalahnya telah diketahui dengan mendalam dan sungguh-sungguh, maka
nasihat untuk kembali tidak akan ada faidahnya.
Sedangkan
menurut pengarang buku ini sendiri mengatakan kepada orang yang tidak pandai
bercinta;
Kesakitan adalah obatmu dan tidak
ada penyelesaian selain itu. Aku ulangi sekali lagi
Penyakitmu adalah obatmu, tidak ada
penyelesaian lain
Apakah apa yang aku katakan ini
masuk akal?
Apakah ia satu kegilaan?
Pada
hakikatnya cinta itu logis sekaligus sangat gila. Logika demam asmara yang
hanya memiliki satu logika, yaitu logika dirinya sendiri.
Demam
cinta memang akan berlanjut terus selamanya dan tidak akan padam, akan tetapi
yang harus diingat jangan sampai cinta itu menjadi berkarat. Lukamu akan senantiasa baru, selamanya tidak akan
terbalut. Akan tetapi jangan sampai engkau menjadi lemah. Jadikanlah api
siksamu sebagai bahan bakar kekuatanmu. Jadikanlah api yang menyiksamu sebagai
api perjuanganmu untuk mencapai impianmu.
Aku
tidak berkata padamu “Lupakan rasa sakit” karena pengalaman sejarah dalam cinta
mengatakan bahwa orang yang jatuh cinta tidak akan bisa melupakan rasa sakitnya
selamanya. Namun tujuan dari apa yang hendak disampaikan dari kata itu adalah
biarkanlah cinta rela pergi dari belantara bius yang berkepanjangan.
Aku
katakan kepada engkau agar jangan sampai rela menerima kenyataan diri seperti
itu, engkau akan hidup dengan kehidupan tanpa hidup dan engkau akan memakan
bangkai hidup. Akan tetapi pedulikanlah. Jika api cintamu mengecil maka engkau
harus memperbaruinya terus menerus. Tatalah hidup dalam neraka dunia ini, dan
untuk menaggungnya bersandarlah pada kekuatan imanmu agar engkau mampu
merealisasikan apa yang tidak mampu dicapai orang lain.
Aku
katakan kepadamu jika luapan cinta mendekatkanmu kepada sampah, kelinglungan
dan merusak keadaan, maka engkau harus membuatnya mendekatkan dirimu kepada
kekuatan, keuletan dan kemantapan.
(BOOK:
Cinta Dalam Perspektif Islam oleh Muhammad Ibrahim Mabrouk)
#Day(17)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar