Bert,
kamu harus tahu bahwa ketika takdir memang menyerah atas kehendak kamu dan aku,
kita mungkin patut mensyukurinya. Tetapi jika tidak, aku hanya mampu meyakinkan
dirimu bahwa, kapanpun kau mendapati aku, dalam posisi bersama ataupun tidak,
yang karena durasi waktu telah memisahkan kita cukup lama, sehingga wujud kita
menjadi berubah, tampaknya rasaku takkan berubah. Dalam keadaan itu, seperti
apapun wujud aku nanti, aku bahkan hanya akan menampilkan dan memastikan bahwa
kamu tetap bahagia.
Mengapa
kau tetap bahagia? Karena saat itu kau akan menemukan aku dalam kedudukan yang
tetap sama bahwa aku akan terus menjaga rasa sayangku sama kamu. Aku tidak
ingin untuk saat ini, menjadikan aku sebagai sesuatu yang luar biasa bagi kamu.
Karena aku adalah manusia biasa dengan takdir yang juga aku yakin, biasa. Bert,
sejujurnya bahkan aku ingin bertanya kepadamu. Setulus apakah cinta kamu
kepadaku?
Bert
diam, mukanya merah sedikit dengan mata yang meredup dan melelehkan air mata
secara pelan. Ia mengatakan, sHe, itu pertanyaan bodoh yang pernah aku dapatkan
dari seseorang yang di mana seluruh rongga tubuhku, hanya diisi nama-mu tentu
selain nama Tuhanku. sHe, apa sesungguhnya yang tampak di mata dan hatimu
tentang aku? Setelah sekian lama perjalanan yang curam ini kita lalui, tidak kah
kau merasakan denyut nadi dan denyut jantungku yang menyatakan bahwa betapa aku
sangat tulus mencintai kamu. Aku bukanlah laki-laki sempurna bahkan jika harus
dibandingkan dengan kesempurnaan laki-laki yang telah menjadi kekasihmu. Aku adalah
manusia biasa yang sesungguhnya juga biasa.
Aku
dan kamu hanya ditakdirkan untuk saling mencintai, selebihnya aku tidak tahu
dan tidak menginginkan apapun. Akupun tak memaksa dan tidak menuntut kamu untuk
menjadi pendampingku, bahkan sekedar untuk mencintaiku. Namun demikian, aku
mohon tetap izinkan bahwa di dunia ini ada seorang laki-laki yang tulus,
mulutnya harus mengungkap satu rangkaian batin yang menyatakan bahwa betapa aku
mencintai kamu. Cinta sejati yang kupendam ini, kupercaya tidak mungkin mampu
dirangkai dalam bait-bait puisi atau dalam cengkraman prosa yang disusun
penyair kelas dunia setingkat Kahlil Gibran sekakipun.
Bert,
sHe memelas dengan sangat syahdu. Kamu harus tahu bahwa betapa dalamnya cinta
ini sehingga seperti pisau yang sangat tajam, terus menerus menghujam ke dalam
setiap irisan hatiku. Ia telah menghujam, menggerogoti, melucuti, dan bahkan
melepuhkan kedirian, sehingga karenanya aku menjadi terlupa akan segala hal,
termasuk sifat pribadiku sendiri. Aku tak kuasa pada akhirnya sehingga takluk
pada sifat gairah cinta itu sendiri. Tetapi izinkan aku, untuk merenung agar
mampu memilih mana yang terbaik di antara kita. Untuk apa? Agar tidak ada
penyesalan yang mungkin terjadi di kemudian hari atas semua putusan yang kita
ambil.
sHe
terus berkata seperti kemasukan ruh cinta tulusnya sebagai manusia. Bert, cinta
ini tak sebatas angan yang terlukis dibenakku. Bukan pula permainan kata-kata
sepahan yang tak bermakna. Kesungguhan cinta aku sama kamu, jujur tampaknya tak
akan pernah pupus dan tak akan lekang di makan waktu. Rasa cintaku padamu ini,
terasa selalu indah meski kadang hadir dengannya sebuah derita batin yang tak
berperi.
(BOOK : Dalam Novel berjudul Agama Tanpa Tuhan oleh Cecep Sumarna)
#Day(19)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar