Kamis, 23 Mei 2019

30 HRDC Day 19 : Pertemuan Bert dan sHe


Bert, kamu harus tahu bahwa ketika takdir memang menyerah atas kehendak kamu dan aku, kita mungkin patut mensyukurinya. Tetapi jika tidak, aku hanya mampu meyakinkan dirimu bahwa, kapanpun kau mendapati aku, dalam posisi bersama ataupun tidak, yang karena durasi waktu telah memisahkan kita cukup lama, sehingga wujud kita menjadi berubah, tampaknya rasaku takkan berubah. Dalam keadaan itu, seperti apapun wujud aku nanti, aku bahkan hanya akan menampilkan dan memastikan bahwa kamu tetap bahagia.

Mengapa kau tetap bahagia? Karena saat itu kau akan menemukan aku dalam kedudukan yang tetap sama bahwa aku akan terus menjaga rasa sayangku sama kamu. Aku tidak ingin untuk saat ini, menjadikan aku sebagai sesuatu yang luar biasa bagi kamu. Karena aku adalah manusia biasa dengan takdir yang juga aku yakin, biasa. Bert, sejujurnya bahkan aku ingin bertanya kepadamu. Setulus apakah cinta kamu kepadaku?

Bert diam, mukanya merah sedikit dengan mata yang meredup dan melelehkan air mata secara pelan. Ia mengatakan, sHe, itu pertanyaan bodoh yang pernah aku dapatkan dari seseorang yang di mana seluruh rongga tubuhku, hanya diisi nama-mu tentu selain nama Tuhanku. sHe, apa sesungguhnya yang tampak di mata dan hatimu tentang aku? Setelah sekian lama perjalanan yang curam ini kita lalui, tidak kah kau merasakan denyut nadi dan denyut jantungku yang menyatakan bahwa betapa aku sangat tulus mencintai kamu. Aku bukanlah laki-laki sempurna bahkan jika harus dibandingkan dengan kesempurnaan laki-laki yang telah menjadi kekasihmu. Aku adalah manusia biasa yang sesungguhnya juga biasa.

Aku dan kamu hanya ditakdirkan untuk saling mencintai, selebihnya aku tidak tahu dan tidak menginginkan apapun. Akupun tak memaksa dan tidak menuntut kamu untuk menjadi pendampingku, bahkan sekedar untuk mencintaiku. Namun demikian, aku mohon tetap izinkan bahwa di dunia ini ada seorang laki-laki yang tulus, mulutnya harus mengungkap satu rangkaian batin yang menyatakan bahwa betapa aku mencintai kamu. Cinta sejati yang kupendam ini, kupercaya tidak mungkin mampu dirangkai dalam bait-bait puisi atau dalam cengkraman prosa yang disusun penyair kelas dunia setingkat Kahlil Gibran sekakipun.

Bert, sHe memelas dengan sangat syahdu. Kamu harus tahu bahwa betapa dalamnya cinta ini sehingga seperti pisau yang sangat tajam, terus menerus menghujam ke dalam setiap irisan hatiku. Ia telah menghujam, menggerogoti, melucuti, dan bahkan melepuhkan kedirian, sehingga karenanya aku menjadi terlupa akan segala hal, termasuk sifat pribadiku sendiri. Aku tak kuasa pada akhirnya sehingga takluk pada sifat gairah cinta itu sendiri. Tetapi izinkan aku, untuk merenung agar mampu memilih mana yang terbaik di antara kita. Untuk apa? Agar tidak ada penyesalan yang mungkin terjadi di kemudian hari atas semua putusan yang kita ambil. 

sHe terus berkata seperti kemasukan ruh cinta tulusnya sebagai manusia. Bert, cinta ini tak sebatas angan yang terlukis dibenakku. Bukan pula permainan kata-kata sepahan yang tak bermakna. Kesungguhan cinta aku sama kamu, jujur tampaknya tak akan pernah pupus dan tak akan lekang di makan waktu. Rasa cintaku padamu ini, terasa selalu indah meski kadang hadir dengannya sebuah derita batin yang tak berperi.

(BOOK : Dalam Novel berjudul Agama Tanpa Tuhan oleh Cecep Sumarna)

#Day(19)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

30 HRDC Day 2 : Tolong

Allahummasolli’Ala Sayyidina Muhammad Wa’Ala’alihi Muhammad Allahummasolli’Ala Sayyidina Muhammad Wa’Ala’alihi Muhammad Aku hidup berdua ...