Suatu hari aku berkumpul dengan temanku di kosannya setelah mata kuliah selesai. Aku menghampiri sebutlah Noviana, aku mengatakan numpang istirahat di kosan dia sampai masuk mata kuliah selanjutnya. Noviana ini di darah orang tuanya mengalir darah keturunan Jawa, dia pernah bilang kepadaku dia pernah pergi sekali sewaktu dia masih kecil di tempat neneknya di Jawa. Aku tidak tahu pasti Jawa di Yogjakarta atau Semarang karena dia hanya beberapa kali menyinggung Jawa saat kami berkumpul bersama. Kami bisa dikatakan teman dekat antara aku, Noviana dan dua teman lagi sebutlah Asma dan Hasni. Awal masuk kuliah disemester satu, aku berteman dengan Hasni, Susanti dia ini teman satu kamar dan satu kos dengan Hasni dan juga Sulfi teman di angkatan yang pintar. Awalnya aku mengira kami bisa berteman dekat tetapi seiring waktu berjalan hingga sekarang bisa dikatakan aku, Hasni, Asma dan Noviana kami berteman cukup dekat saling meminta bantuan satu sama lain, saling merepotkan satu sama lain, saling travelling satu sama lain, mengunjungi rumah satu sama lain, shopping satu sama lain.
Kami dekat tetapi tidak sedekat persahabatan bagai kepompong mengubah ulat menjadi kupu-kupu. Bisa dikatakan Asma, Noviana dan Hasni mereka lengket dalam berbagai hal sedangkan aku memang selalu menjadi orang netral jika di antara mereka berdebat atau saat mereka berbicara aku hanya sebagai pendengar sesekali nimbrung tetapi aku sangat senang berteman dengan mereka. Mereka tidak sungkan denganku, kadang kala mereka mengomeliku kalau memang ada sesuatu yang mereka tidak puas dariku tetapi mereka selalu menjaga pertemanan dengan baik.
“Tok, Tok, Tok”
“Siapa? Masuk”
“Ehh, ada kamu pale”
Hasni dan Asma teman satu kos dan teman sekamar juga, jarak kost Noviana dan Hasni dan Asma tidak terlalu jauh kalau berjalan kaki hanya masuk gang melewati lima sampai enam rumah kost, kost Noviana sudah ditemui.
“Apa bikin?” Hasni dan Asma duduk dihadapanku saling berhadapan di depan kipas.
“Nunggu dulu sampai masuk kuliah” jawabku.
“Mandre bakwan ki, maliwaseng ka.”
“Idi Hasni maliwaseng magai bakwan iko meli” Noviana yang sebelumnya berbaring, langsung bangun dan mendekat disekitar kami.
Bakwan harga lima ribu kami makan bersama, sambil bercerita mengenai kuliah yang tadi diikuti sambil mengenai setelah kuliah mau ngapain.
“Selesai kuliah mauka langsung menikah” Noviana tertawa sambil memeluk bantal dengan menjatuhkan dirinya di samping Asma.
“Saya kalau selesai kuliah Ardi ngelamar menikah ka kalau tidak kerjaka di Kalimantan kapang” Hasni menyayut sambil makan bakwan di sampingku-kipas sebagai jaraknya.
“Apaje cepat-cepat menikah, kerjami dulu. Menikah gampanglah itu, urusan belakangan. Di Shin?” Asma sambil memegang hape dan memandangku.
Aku tersenyum dan tertawa kecil “Sama, akupun gitu. Kerja dulu soal jodoh Allah-lah yang atur”
“Aku yakin toh, di antara kia pasti Shin yang terakhir menikah” Noviana bangkit dari berbaring ngasalnya.
“Iya, masalahnya tidak pernah sedding aku lihat Shin dekat sama laki-laki. Berbicar juga jarang” Hasni memandangku dengan ekspersi heran dan tak percaya. Aku hanya menaggapi dengan senyum dan membaca cerita novel di hapeku.
“Shin, kalau nikah jangan lupa ngundang nah” Asma melihatku dengan tertawa “Sempat di Kalimantan Shin nikah, belapaga pergi di sana” lanjut Asma sambil tertawa.
“Tidak tau” aku hanya membalas dengan mengangkat kedua bahuku.
Setelah kuliah, lalu apa? Setiap orang pasti telah merancang impiannya masing-amsing. Sewaktu kecil aku saat ditanya oleh teman-teman, orang tua, dan guru, apa cita-citaku pasti aku jawab Dokter, karena Dokter adalah cita-cita kedua orang tuaku, aku yakini itu cita-citaku-Dokter pada diriku sendiri. Hingga duduk dibangku Madrsah Aliyah aku berjalan sesuai arus kehidupanku, setelah lulus hingga aku berada di sini jauh dari keluargaku dan duduk dijurusan yang sekarang aku tempuh aku yakin itu tidak mudah.
Sewaktu SMA aku selalu mengikuti penyanyi-penyanyi baik dalam negeri ataupun luar negeri dan keinginanku diwaktu itu ingin menjadi penari. Tetapi aku malu menari di depan orang, apalagi menari dengan pakain kekurangan bahan atau berbaju ketat aku mundur dari keinginanku itu. Setelah duduk disemester tiga aku mengikuti organisasi lembaga pres mahasiswa(LMP) aku mulai menyukai kegiatanku ini, menjadi wartawan magang biarpun hanya mewawancari di dalam kampus itu buat aku bangga sendiri menjadi redaktur sementara.
Saat pemilihan devisi, aku memilih devisi layout karena aku ingin mencoba hal baru mengingat aku untuk masalah mengedit masalah naskah aku bisa biarpun ngga pintar amat jadi aku memilih devisi layout. Setelah dipilih oleh Pemred (Pemimpin redaksi) aku ditempatkan di bagian redaktur, antara senang dan sekaligus sedikit terluka tetapi aku menjani beberapa waktu dibagian itu, hingga semester empat aku mulai menghilang karena tugas kampus yang tidak bisa aku duakan. Aku memilih out dari LPM RED LINE. Mulai dari lembaga ini aku menyukai apapun menyangkut jurnalistik.
Saat semester lima ada sebuah formulir online broadcasting aku mendaftar dan memilih devisi announcer/penyiar aku belajar sampai mengikuti trainning, setelah duduk disemester enam aku out kembali dan itu buat aku kesal sendiri, aku sangat menyukai ini tetapi aku tidak bisa bagikan fokusku dengan semester yang mulai buat aku sibuk. Akhirnya aku memilih out dari pada kuliahku berantakkan. Karena aku tidak bisa membagikan fokusku kepada yang lain. Dan kesibukan di semester ini harus aku utamakan dari yang lain.
Jika di tanya setelah kuliah, lalu apa? Aku merencanakan banyak hal dalam pikiranku dan telah aku sebut satu persatu dalam doa kepada Tuhan. Karena aku yakin rencana Tuhan jauh lebih baik dari rencanaku. Aku merencanakan banyak hal tetapi Tuhan-kulah yang menentukannya, dan pastinya doa dan tindakan menjadi penolong, Insya Allah. Aamiin.
#Day(23)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
(Perhatian Member : Kalau bahasa bugisnya salah tolong di maklumi ya, hihi)
Menjuluki dirinya gadis perasa. Penyuka semua warna. Terlalu banyak khayal dalam mimpinya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
30 HRDC Day 2 : Tolong
Allahummasolli’Ala Sayyidina Muhammad Wa’Ala’alihi Muhammad Allahummasolli’Ala Sayyidina Muhammad Wa’Ala’alihi Muhammad Aku hidup berdua ...
-
benar kata petuah teman mengatakan “Kalau rindu itu gangguan batin” “Kalau rindu tak abadi, tidak juga bisa hilang, sebab Tuhan menciptaka...
-
Meletakkan yang baik di tempat yang buruk, jauh lebih baik dibandingkan dengan meletakkan sesuatu yang buruk di tempat yang baik. Apapun yan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar