Belakang
Kos
/1/
Berdiri
di bawah
langit sore belakang kos tempat tinggal sementara
Mengadahkan
kepala melihat putihnya awan, birunya
langit dan hitamnya burung
beterbangan.
Suara
kicauan burung terdengar,
suara keran air mengalir, suara desakan
piring-piring berbunyi ulah tangan manusia, suara lalu lalang
kendaraan terdengar sepasang telinga.
/2/
Masih
berdiri ditempat pijakan masih dengan menadahkan kepala diatas memandang langit
sore pukul lima kala itu.
Melingkarkan
sepasang tangan dibelakang kepala melihat awan dibawa angin dengan bentuk
serupa naga dengan gumpalan-gumpalan abstrak bagian ujung awan seakan berbentuk
lingkaran hati, bibir tersenyum dan ketawa kecil seakan ia tahu bagaimana isi
hati kala itu.
/3/
Diri
berkata dengan kata dan ucapan tak terdengar hanya bisikan kecil dari hati
berkata "Sabar dan ikhlas
duhai hati sebentar atau dalam jangka waktu yang masih lama" Sambil
tersenyum simpul dan berlalu.
Duhai
Hati
/1/
Daun
ilalang bergoyang mengikuti irama angin
Kicauan
burungpun berdendang dengan syahdu
Jangkring-jangkring
rerumputan tak ingin kalah menyuarakan musiknya
Seiring
kaki melangkah.
/2/
Jari
nan lentik dihinggapi
kupu-kupu khas warna alam sekitar tempat kaki melangkah
Tupai
melompat dari dahan satu ke dahan satu
Terlihat
senja dihalangi awan hingga tak terlihat oleh mata warna indahnya
Langit-langit
sorepun semakin berangsur pergi
/3/
"Duhai
hati apa kabar hari ini?" Tanya kupu-kupu kepadanya
"Sepertia
biasa" Jawab gadis terduduk di samping pohon rindang berwarna hijau
agak sedikit kekuningan.
"Mungkin
saja kamu tak yakin dengan hatimu, atau masih ragu sehingga kau tak berani
mengambil suatu keputusan dengan yakin. Bukankah hati penyebab segala dalam
diri? Jika hatimu sakit dan rusak, maka kaupun akan hancur baik fisik, mental
dan kerohanianmu" Ucap kupu-kupu
sambil terbang di atas langit sore.
Merayu-Mu
/1/
Kemarin
saat menelusuri padang hijau, daun ilalang mengenai sekujur tubuhku, tersenyum
indahnya pemandangan di hadapan.
/2/
Daun
menari-nari disepasang pohon yang lebat kehijauan, warna kuning kering
berjatuhan pohon paling ujung dari sepuluh kaki melangkah
/3/
Angin
menyapu muka saat netra terpejam, senyum terukir disepasang bibir menikmati
angin sore
/4/
Sepasang
telinga mendengar musik klasik zaman dahulu, kujelajahi pohon satu persatu
sumber suara semakin jelas terdengar
/5/
"Sedang
apa kau di sini" Kataku
"Kau
tahu, sudah banyak kulewati. Belokan demi belokan kuhadapi terkadang kuberhenti
sejenak melepas penat. Suatu ketika Aku dihadapi oleh jalan yang menjulang
tinggi seperti bukit. Sangat sulit, kuhilang semangat, kuingin mundur tapi aku
belum mendapat apa yang aku cari. Tetap berjalan sambil merangkak dan
tertatih-tatih"
/6/
"Kau
temui apa yang kau cari?"
Ia
tersenyum sambil memandang langit " Belum. Hingga saat ini, Tapi aku yakin
apa yang menjadi rencanaku Allah lah yang lebih tahu apa yang terbaik
untukku, Aku berharap setiap kaki melangkah Allah meridhoinya, aku sedang
berusaha dan merayu-Nya dengan untaian kata yang sederhana si pemilik Alam
Semesta"
Rindu
/1/
Langkah
demi langkah kaki melewati rerumputan menjulang tinggi hingga tangan.
Khimar
tersibak oleh angin melewatinya hingga ujung gamispun ikut bergoyang
burung-burung
sore terlihat bahagia beterbangan diatas kepala
Hingga
daun kekuningan ikut serta bersama angin bermain disore itu.
/2/
Beringin
tersenyum padanya
Ranting
menyapa dengan melambaikan tangan untuknya
Dedaunan
kering say hello untuk gadis bergamis
abu-abu jilbab maron hingga pinggul.
/3/
Hingga
langkah kaki terhenti disamping ilalang berdiri dengan anggun dan berbicara
kepadanya
"Aku
sedang merindu" Ucap gadis seraya memadang rerumputan yang bergoyang
dihadapan
"Jika
kau rindu, katakan pada seseorang itu hingga ia tahu jika kau sedang
merindukannya" Nasehat ilalang padanya
"Aku
tidak tahu harus memulai kata apa untuk mengungkapkan kepadanya" Seraya
memandang langit yang ditutup awan
"Kepada
siapakah kau memberi rindu itu?" Tanya ilalang menghadap gadis
disampingnya
"Dia
yang memberi kehidupan untukku. Dia yang memberi nikmat sehat padaku. Dia yang
selama ini aku kejar perhatiannya untuk ridho setiap langkahku"
Hujan
Rintik-rintik
hujan membasahi jendela samping dudukku
Kuulur
tangan hingga butiran hujan hinggap di telunjuk jari
Memandang
di langit kelabu menutup awan hampir keseluruhan
Memandang
dijalan kendaraan lalu-lalang menerobos jatuhnya hujan
Secangkir
uap teh manis mengepul diatas hingga menusuk indra pencium
Dengan bau melatinya yang diracik berupa
teh
Kuberpikir
Jikalau
butiran hujan jatuh berupa batu ukuran besar
Angin
dengan kencang menerjang insan beraktivitas
Jika
akhir zaman ditandai musibah serupa
Apa
yang diri siap menghadap hakim yang sebenar-benarnya hakim?
#Day(4)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Ada pencinta puisi nih, wahhh. Suka kata kata:hakim yang sebenar-benarnya hakim
BalasHapusSama aku juga
HapusYaps aku suka puisi pake banget
HapusYaps aku suka puisi pake banget
Hapusbagus banget puisinya..
BalasHapusImajinatif sekali kakak. Updatenya selalu cerpen or puisi 👍
BalasHapus