Adakah harap untukku?
Untuk menemui kamu
dipersimpangan jalan ataukah mendatangi kamu?
Aku terlalu pengecut
dan juga malu.
Melihat kamu tersenyum
senang bersama dia yang kutak tahu.
Memandang kamu adalah
sesak untukku.
Bersama dia yang
mungkin saja yang ada di hatimu.
Apalah aku.
Sesosok tak pernah kau
perhatikan.
Pada malam yang tak
pernah kau pikirkan.
Pada senja yang tak
pernah kau harapkan.
Menyukaimu?
Aku ragu tentang itu.
Cinta?
Tak pernah terpikirkan
olehku.
Hanya saja.
Aku terlalu suka dari
caramu berbicara.
Dari caramu bertingkah.
Kagum?
Kalau dua kata itu
benar adanya.
Mungkin saja aku
mengagumimu.
Tapi apakah benar?
Pantaskah aku menaruh
harap untukmu?
Yang saban hari dirimu
tidak ada secuil pikiran tertuju padaku.
Pantaskah orang itu
kamu?
Atau.
Aku enyehkan saja
inginku mengharapkanmu?
Aku terlalu dewana;
tergila-gila dalam angan.
Alunan ayuan ombak
kecil buaian.
Pergi meninggalkan
sembilu terdalam.
Baik,
Dirimu telah hirap;
hilang dalam sekejap.
Meninggal butir-butir
akara dalam bayang.
Kini, bahagiakan
kuraih.
Meninggalkan dirimu.
Dalam inginku yang
semu.
#Day(5)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Kekaguman yang semu
BalasHapus