“Coba
lihat
air lautnya”
“Maya...”
“LARI
CEPAT!!!”
Kejadian
dua tahun yang lalu 28 September masih menghantui pikiran dan bayangan, peristiwa yang penuh
dengan tangis dan duka. Runtuhnya bangunan, hilangnya sanak keluarga,
ketakutan, harta benda semua hanya sisa-sisa kenangan yang sulit terlupakan.
Rasa takut, khawatir, parno semua masih dirasakan sampai detik ini. Bagaimana
tidak bencana tanpa terduga itu bagaikan bom yang siap melenyapkan jiwa dan
raga pada saat itu juga. Tangis, ucapan istighfar, takut yang sangat dalam, yang ada dalam pikiran
saat itu MATI.
Sore
pukul 16:00 WITA adalah waktu anak muda, mudi bersantai ria di tepi laut.
Menikmati angin sore, menunggu tenggelamnya senja, dan melihat genangan air
laut itu, tak lupa mencuci mata mengingat kita adalah wanita penyuka pria.
Berbicara banyak hal, tentang percintaan, keluarga, sampai mengomentari orang-orang yang
bersantai dengan aktivitas yang mengundang tawa. Tepat satu jam tiga puluh
menit lamanya kami bergegas pulang mengingat Magrib tidak lama akan memanggil.
Sebelum pulang di kosan, kami membeli makanan untuk makan malam di warung dekat
laut.
Mengendarai
roda dua warna merah pembelian dari orang tuaku kami segera pulang, dengan
heran aku memandang laut yang mengering drastis.
“Coba
liat air lautnya” Tanyaku kepada teman yang kugonceng
“Maya...”
sekali lagi kuberbicara padanya
Dengan
panik dan ketakutan temanku berteriak “LARI CEPAT!!!”
Yang
sedang melakukan aktivitas di laut dengan segera berlari membawa keluarga.
Berhamburan, teriak, mengucap, aku yang kala itu cuman satu TEMPAT TERTINGGI
kulajukan motorku sebisa dan semampuku untuk menyelamatkan kami. Habis. Semua
benar-benar habis. Sangat mengerikan, ketakutan dan getar sekujur tubuh
benar-benar kejadian yang maha dahsyat, KIAMAT itu dalam pikiran akankah
seperti ini.
“Kenapa?”
Dengan kaget aku memandang Kiki yang duduk di seberang kiriku, teman-teman yang
masih berada di kelaspun turut memalingkan wajahnya kepadaku.
“Tidak,”
Senyum kalem aku lemparkan kepada mereka.
“Ada
masalah? Ceritalah” Miny mendatangiku yang duduk di belakang paling pojok.
“Tidak
ada apa-apa,”
“Jangan
melamun, nanti dirasuk hantu angin” Novi memakai tas melangkahkan kakinya
menuju pintu keluar.
“Ayo,”
Dua
tahun lamanya tidak membuatku melupakan peristiwa besar itu. Dari kejadian itu
banyak hal yang telah berubah di dekat laut. Perumahan sampai tak jarang aku
pergi di sana saat menjelang Magrib tepi laut sunyi bingar. Hanya suara burung
beterbangan yang berkicau. Saat kejadian bencana di Indonesia selalu membuatku
parno, dan menangis. Karena aku sudah merasakannya bagaimana sangat prihatinnya
orang-orang yang terkena bencana. Dan selalu aku kaitkan kepada HARI KIAMAT.
Dari semua bencana dua tahun yang lalu tempat tinggal kulah yang sangat
dahsyat, bagaimana tidak. Gempa, tsunami, dan ditambahnya getaran di dalam
tanah. Kalian ingat kisah kaum Sodom yaitu Nabi Luth atas perbuatan mereka yang
menyimpang. Homoseksual, gay dan lesbian atas perbuatan mereka Allah murka “bukankah telah datang
kepada kalian suatu peringatan dan sesungguhnya Allah mengutus Nabi kepada kaum
tersebut agar kalian bertobat dan bertakwa Pada-Nya”.
Kaum Sodom tertelan bumi sampai sekarangpun jasad mereka tidak ditemukan, dan
kalian ingat Firaun dan Qarun. Entahlah kenapa mata kuliah tadi yang disampaikan
oleh dosenku mengingatkan HARI BESAR itu seakan mendekat.
"Hari
Sabtu ini kafe yuk"
"Kamu
traktir"
"Bayar
sendiri-sendirilah, bangkrut bandar"
"Shinta,
Are You Okay?"
Dengan
sedikit terperanjat aku palingkan kepalaku kepada Kiki.
"Are
You Okay?" lagi Kiki menanyakan pertanyaan yang sama.
"Maaf,
kalian tadi mau pergi mana?"
"Pales
teduh caffe, hari Sabtu. Pergi?" Novi memberitahu tempat yang sedang
mereka bincangkan.
"Insya
Allah," sambil
tersenyum kepada mereka
"Kamu
masih kepikiran kejadian itu?" Kiki bertanya sambil duduk di bawah payung
tempat duduk dekat parkiran gedung
perkuliahan.
"Yahh,
begitulah. Rasanya sulit dilupakan"
"Shinta,
Move on dong sayang, bukan hanya pacar tapi banyak kok salah satunya itu
kejadian itu" Nurul berkata sampai memainkan handphonenya.
Mereka
adalah saksi bisu atas kejadian itu, mengingat aku adalah suku yang berbeda
dengan mereka. Suku dayak dan suku bugis. Sulit bagiku memahami apa yang mereka
katakan ada beberapa kata yang tidak aku mengerti dari mereka. Atas kejadian
itu yang bisa aku lakukan berdoa dan bersabar serta ikhlas dan rasa syukur
karena masih diberi hidup untuk belajar taat kepada Tuhan-ku.
Kuhirup
udara melalui hidungku dalam-dalam seraya memandang dibawah dari lantai tiga
gedung perkuliahanku. 12:00 WITA aku keluar dari ruangan radio akademia sehabis
melihat ruangan itu. Rindu rasanya berbincang bersama rekan-rekan satu angkatan
beberapa bulan lalu mendaftarkan diri di brodcasting
itu. Adzan
terdengar di Masjid kampusku menandai Dzuhur telah datang.
"Kirain
udah pulang Shin" Amrihani teman satu penyiarku keluar dari ruangan radio
itu.
"Habis
Dzuhur ada kuliah, sekalian nunggu" Jawabku memandang dua
orang lainnya keluar juga.
"Oh
yaudah, aku ke bawah ya. Kelasku di N4" Amrihani memakai sepatu dan ingin beranjak pergi.
"Kamu
ngga solat?" Tanyaku sambil berjalan bersampingan bersama.
Dengan
senyum dan memandangku "Nanti aku solat, selesai kuliah" Ya selalu
seperti itu bukan hanya Amrihani teman yang lain juga kalau kutanya pasti ada
yang diam atau tidak menghindar dan mengatakan alasan yang lain.
Kuhembuskan
napasku dengan pelan "Selalu" kataku
"Dulu
juga aku sama denganmu, sering menunda solat dan pada akhirnya waktunya habis.
Aku anggap itu biasa saja tidak apa-apa pikirku, besok masih bisa" memandang
Amrihani dengan menarik tangannya.
"Ayo
solat" Kuajak lagi dengan sedikit menariknya.
Ya,
setelah kejadian itu membuatku belajar untuk melaksanakan solat. Terlambat? Bukankah tidak
ada kata terlambat sebelum nyawa sampai tenggorokan?
Malu?
Jangan tanyakan aku malu pada diriku sendiri dan kepada Tuhan-ku. Di usiaku 20
tahun ini aku baru melaksanakan solat. Betapa ruginya aku selama ini. Terkadang
hidayah itu kita tidak akan menyangka dia menghampiri kita. Hidayah terkadang
datang hanya saja kita yang mengabaikannya. Sibuk hingga membuat kita lupa
setelah hidup akan mati setelah mati kita akan dihidupkan kembali dan pada saat
itu semua telah terlambat karena di situlah kita dihakim oleh Hakim
seadil-adilnya Hakim.
Kejadian
yang memakan korban jiwa ribuan itu tidaklah terjadi begitu saja tanpa sebab.
Karena suatu peristiwa yang terjadi pasti ada sebabnya. Jika diliat dari
geografis adanya patahan dan pergesaran lempeng yang jujur aku tidak terlalu
tahu banyak mengenai itu. Jika dipikirkan lagi tempat melakukan maksiat
perjudian, perzinahan, pesta miras dan narkoba dan istri simpanan tertelan bumi
dan dipenuhi lumpur. Tempat-tempat megah seperti hotel, mall dan karaokean
hancur rata dengan bangunan yang runtuh. Gadis-gadis pengantut sistem liberal
tinggal mayat tak berbusana yang seharusnya Indonesia tidak seperti itu. Pusat
pelacuran terbesar di kota tempatku rata dihantam tsunami.
“Dan tidak pernah (pula)
Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan
kezaliman,” (QS. Al Qhashash: 59).
“Jika Kami menghendaki menghancurkan suatu negeri, Kami perintahkan
orang-orang yang hidup mewah (berkedudukan untuk taat kepada Allah) tetapi mereka
melakukan kedurhakaan dalam negeri tersebut, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian kami hancurkan
negeri itu sehancur-hancurnya,” (QS. Al-Isra': 16).
#Day(3)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Sungguh tidak bisa menayangkan bagaimana paniknya orang2 yang merasakan langsung. Semangat mba, semoga jadi pembelajaran buat kita semua.
BalasHapusAamiin
HapusAamiin
HapusYa Allah ikut takut bacanya , semoga trauma itu segera hilang kak.
BalasHapusSya jga berdoa bgtu buat saudara kita
HapusSya jga berdoa bgtu buat saudara kita
Hapus