Rabu, 08 Mei 2019

30 HRDC Day 4 : Puisi Oleh Maumi Makka


Belakang Kos
/1/
Berdiri di bawah langit sore belakang kos tempat tinggal sementara
Mengadahkan kepala melihat putihnya awan, birunya langit dan hitamnya burung beterbangan.
Suara kicauan burung terdengar, suara keran air mengalir, suara desakan piring-piring berbunyi ulah tangan manusia, suara lalu lalang kendaraan terdengar sepasang telinga.
/2/
Masih berdiri ditempat pijakan masih dengan menadahkan kepala diatas memandang langit sore pukul lima kala itu.
Melingkarkan sepasang tangan dibelakang kepala melihat awan dibawa angin dengan bentuk serupa naga dengan gumpalan-gumpalan abstrak bagian ujung awan seakan berbentuk lingkaran hati, bibir tersenyum dan ketawa kecil seakan ia tahu bagaimana isi hati kala itu.
/3/
Diri berkata dengan kata dan  ucapan tak terdengar hanya bisikan kecil dari hati berkata "Sabar dan ikhlas duhai hati sebentar atau dalam jangka waktu yang masih lama" Sambil tersenyum simpul dan berlalu.

Duhai Hati
/1/
Daun ilalang bergoyang mengikuti irama angin
Kicauan burungpun berdendang dengan syahdu
Jangkring-jangkring rerumputan tak ingin kalah menyuarakan musiknya
Seiring kaki melangkah.
/2/
Jari nan lentik dihinggapi kupu-kupu khas warna alam sekitar tempat kaki melangkah
Tupai melompat dari dahan satu ke dahan satu
Terlihat senja dihalangi awan hingga tak terlihat oleh mata warna indahnya
Langit-langit sorepun semakin berangsur pergi
/3/
"Duhai hati apa kabar hari ini?" Tanya kupu-kupu kepadanya
"Sepertia biasa" Jawab gadis terduduk di samping pohon rindang berwarna hijau agak sedikit kekuningan.
"Mungkin saja kamu tak yakin dengan hatimu, atau masih ragu sehingga kau tak berani mengambil suatu keputusan dengan yakin. Bukankah hati penyebab segala dalam diri? Jika hatimu sakit dan rusak, maka kaupun akan hancur baik fisik, mental dan kerohanianmu" Ucap kupu-kupu sambil terbang di atas langit sore.

Merayu-Mu
/1/
Kemarin saat menelusuri padang hijau, daun ilalang mengenai sekujur tubuhku, tersenyum indahnya pemandangan di hadapan.
/2/
Daun menari-nari disepasang pohon yang lebat kehijauan, warna kuning kering berjatuhan pohon paling ujung dari sepuluh kaki melangkah
/3/
Angin menyapu muka saat netra terpejam, senyum terukir disepasang bibir menikmati angin sore
/4/
Sepasang telinga mendengar musik klasik zaman dahulu, kujelajahi pohon satu persatu sumber suara semakin jelas terdengar
/5/
"Sedang apa kau di sini" Kataku
"Kau tahu, sudah banyak kulewati. Belokan demi belokan kuhadapi terkadang kuberhenti sejenak melepas penat. Suatu ketika Aku dihadapi oleh jalan yang menjulang tinggi seperti bukit. Sangat sulit, kuhilang semangat, kuingin mundur tapi aku belum mendapat apa yang aku cari. Tetap berjalan sambil merangkak dan tertatih-tatih"
/6/
"Kau temui apa yang kau cari?"
Ia tersenyum sambil memandang langit " Belum. Hingga saat ini, Tapi aku yakin apa yang menjadi rencanaku Allah lah yang lebih tahu apa yang terbaik untukku, Aku berharap setiap kaki melangkah Allah meridhoinya, aku sedang berusaha dan merayu-Nya dengan untaian kata yang sederhana si pemilik Alam Semesta"

Rindu
/1/
Langkah demi langkah kaki melewati rerumputan menjulang tinggi hingga tangan.
Khimar tersibak oleh angin melewatinya hingga ujung gamispun ikut bergoyang
burung-burung sore terlihat bahagia beterbangan diatas kepala
Hingga daun kekuningan ikut serta bersama angin bermain disore itu.
/2/
Beringin tersenyum padanya
Ranting menyapa dengan melambaikan tangan untuknya
Dedaunan kering say hello untuk gadis bergamis abu-abu jilbab maron hingga pinggul.
/3/
Hingga langkah kaki terhenti disamping ilalang berdiri dengan anggun dan berbicara kepadanya
"Aku sedang merindu" Ucap gadis seraya memadang rerumputan yang bergoyang dihadapan
"Jika kau rindu, katakan pada seseorang itu hingga ia tahu jika kau sedang merindukannya" Nasehat ilalang padanya
"Aku tidak tahu harus memulai kata apa untuk mengungkapkan kepadanya" Seraya memandang langit yang ditutup awan
"Kepada siapakah kau memberi rindu itu?" Tanya ilalang menghadap gadis disampingnya
"Dia yang memberi kehidupan untukku. Dia yang memberi nikmat sehat padaku. Dia yang selama ini aku kejar perhatiannya untuk ridho setiap langkahku"


Hujan
Rintik-rintik hujan membasahi jendela samping dudukku
Kuulur tangan hingga butiran hujan hinggap di telunjuk jari
Memandang di langit kelabu menutup awan hampir keseluruhan
Memandang dijalan kendaraan lalu-lalang menerobos jatuhnya hujan

Secangkir uap teh manis mengepul diatas hingga menusuk indra pencium
Dengan bau melatinya yang diracik berupa teh
Kuberpikir
Jikalau butiran hujan jatuh berupa batu ukuran besar
Angin dengan kencang menerjang insan beraktivitas
Jika akhir zaman ditandai musibah serupa
Apa yang diri siap menghadap hakim yang sebenar-benarnya hakim?

#Day(4)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah




6 komentar:

  1. Ada pencinta puisi nih, wahhh. Suka kata kata:hakim yang sebenar-benarnya hakim

    BalasHapus
  2. Imajinatif sekali kakak. Updatenya selalu cerpen or puisi 👍

    BalasHapus

30 HRDC Day 2 : Tolong

Allahummasolli’Ala Sayyidina Muhammad Wa’Ala’alihi Muhammad Allahummasolli’Ala Sayyidina Muhammad Wa’Ala’alihi Muhammad Aku hidup berdua ...