Selasa, 07 Mei 2019

30 HRDC Day 3 : Tak Terlupakan


“Coba lihat air lautnya”
“Maya...”
“LARI CEPAT!!!”

Kejadian dua tahun yang lalu 28 September masih menghantui pikiran dan bayangan, peristiwa yang penuh dengan tangis dan duka. Runtuhnya bangunan, hilangnya sanak keluarga, ketakutan, harta benda semua hanya sisa-sisa kenangan yang sulit terlupakan. Rasa takut, khawatir, parno semua masih dirasakan sampai detik ini. Bagaimana tidak bencana tanpa terduga itu bagaikan bom yang siap melenyapkan jiwa dan raga pada saat itu juga. Tangis, ucapan istighfar, takut yang sangat dalam, yang ada dalam pikiran saat itu MATI.

Sore pukul 16:00 WITA adalah waktu anak muda, mudi bersantai ria di tepi laut. Menikmati angin sore, menunggu tenggelamnya senja, dan melihat genangan air laut itu, tak lupa mencuci mata mengingat kita adalah wanita penyuka pria. Berbicara banyak hal, tentang percintaan, keluarga, sampai mengomentari orang-orang yang bersantai dengan aktivitas yang mengundang tawa. Tepat satu jam tiga puluh menit lamanya kami bergegas pulang mengingat Magrib tidak lama akan memanggil. Sebelum pulang di kosan, kami membeli makanan untuk makan malam di warung dekat laut.

Mengendarai roda dua warna merah pembelian dari orang tuaku kami segera pulang, dengan heran aku memandang laut yang mengering drastis.

“Coba liat air lautnya” Tanyaku kepada teman yang kugonceng
“Maya...” sekali lagi kuberbicara padanya
Dengan panik dan ketakutan temanku berteriak “LARI CEPAT!!!”

Yang sedang melakukan aktivitas di laut dengan segera berlari membawa keluarga. Berhamburan, teriak, mengucap, aku yang kala itu cuman satu TEMPAT TERTINGGI kulajukan motorku sebisa dan semampuku untuk menyelamatkan kami. Habis. Semua benar-benar habis. Sangat mengerikan, ketakutan dan getar sekujur tubuh benar-benar kejadian yang maha dahsyat, KIAMAT itu dalam pikiran akankah seperti ini.

“Kenapa?” Dengan kaget aku memandang Kiki yang duduk di seberang kiriku, teman-teman yang masih berada di kelaspun turut memalingkan wajahnya kepadaku.
“Tidak,” Senyum kalem aku lemparkan kepada mereka.
“Ada masalah? Ceritalah” Miny mendatangiku yang duduk di belakang paling pojok.
“Tidak ada apa-apa,”
“Jangan melamun, nanti dirasuk hantu angin” Novi memakai tas melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
“Ayo,”

Dua tahun lamanya tidak membuatku melupakan peristiwa besar itu. Dari kejadian itu banyak hal yang telah berubah di dekat laut. Perumahan sampai tak jarang aku pergi di sana saat menjelang Magrib tepi laut sunyi bingar. Hanya suara burung beterbangan yang berkicau. Saat kejadian bencana di Indonesia selalu membuatku parno, dan menangis. Karena aku sudah merasakannya bagaimana sangat prihatinnya orang-orang yang terkena bencana. Dan selalu aku kaitkan kepada HARI KIAMAT. Dari semua bencana dua tahun yang lalu tempat tinggal kulah yang sangat dahsyat, bagaimana tidak. Gempa, tsunami, dan ditambahnya getaran di dalam tanah. Kalian ingat kisah kaum Sodom yaitu Nabi Luth atas perbuatan mereka yang menyimpang. Homoseksual, gay dan lesbian atas perbuatan mereka Allah murka bukankah telah datang kepada kalian suatu peringatan dan sesungguhnya Allah mengutus Nabi kepada kaum tersebut agar kalian bertobat dan bertakwa Pada-Nya. Kaum Sodom tertelan bumi sampai sekarangpun jasad mereka tidak ditemukan, dan kalian ingat Firaun dan Qarun. Entahlah kenapa mata kuliah tadi yang disampaikan oleh dosenku mengingatkan HARI BESAR itu seakan mendekat.

"Hari Sabtu ini kafe yuk"
"Kamu traktir"
"Bayar sendiri-sendirilah, bangkrut bandar"
"Shinta, Are You Okay?"
Dengan sedikit terperanjat aku palingkan kepalaku kepada Kiki.
"Are You Okay?" lagi Kiki menanyakan pertanyaan yang sama.
"Maaf, kalian tadi mau pergi mana?"
"Pales teduh caffe, hari Sabtu. Pergi?" Novi memberitahu tempat yang sedang mereka bincangkan.
"Insya Allah," sambil tersenyum kepada mereka
"Kamu masih kepikiran kejadian itu?" Kiki bertanya sambil duduk di bawah payung tempat duduk dekat parkiran gedung perkuliahan.
"Yahh, begitulah. Rasanya sulit dilupakan"
"Shinta, Move on dong sayang, bukan hanya pacar tapi banyak kok salah satunya itu kejadian itu" Nurul berkata sampai memainkan handphonenya.

Mereka adalah saksi bisu atas kejadian itu, mengingat aku adalah suku yang berbeda dengan mereka. Suku dayak dan suku bugis. Sulit bagiku memahami apa yang mereka katakan ada beberapa kata yang tidak aku mengerti dari mereka. Atas kejadian itu yang bisa aku lakukan berdoa dan bersabar serta ikhlas dan rasa syukur karena masih diberi hidup untuk belajar taat kepada Tuhan-ku.

Kuhirup udara melalui hidungku dalam-dalam seraya memandang dibawah dari lantai tiga gedung perkuliahanku. 12:00 WITA aku keluar dari ruangan radio akademia sehabis melihat ruangan itu. Rindu rasanya berbincang bersama rekan-rekan satu angkatan beberapa bulan lalu mendaftarkan diri di brodcasting itu. Adzan terdengar di Masjid kampusku menandai Dzuhur telah datang.

"Kirain udah pulang Shin" Amrihani teman satu penyiarku keluar dari ruangan radio itu.
"Habis Dzuhur ada kuliah, sekalian nunggu" Jawabku memandang dua orang lainnya keluar juga.
"Oh yaudah, aku ke bawah ya. Kelasku di N4" Amrihani memakai sepatu dan ingin beranjak pergi.
"Kamu ngga solat?" Tanyaku sambil berjalan bersampingan bersama.
Dengan senyum dan memandangku "Nanti aku solat, selesai kuliah" Ya selalu seperti itu bukan hanya Amrihani teman yang lain juga kalau kutanya pasti ada yang diam atau tidak menghindar dan mengatakan alasan yang lain.
Kuhembuskan napasku dengan pelan "Selalu" kataku
"Dulu juga aku sama denganmu, sering menunda solat dan pada akhirnya waktunya habis. Aku anggap itu biasa saja tidak apa-apa pikirku, besok masih bisa" memandang Amrihani dengan menarik tangannya.
"Ayo solat" Kuajak lagi dengan sedikit menariknya.

Ya, setelah kejadian itu membuatku belajar untuk melaksanakan solat. Terlambat? Bukankah tidak ada kata terlambat sebelum nyawa sampai tenggorokan?

Malu? Jangan tanyakan aku malu pada diriku sendiri dan kepada Tuhan-ku. Di usiaku 20 tahun ini aku baru melaksanakan solat. Betapa ruginya aku selama ini. Terkadang hidayah itu kita tidak akan menyangka dia menghampiri kita. Hidayah terkadang datang hanya saja kita yang mengabaikannya. Sibuk hingga membuat kita lupa setelah hidup akan mati setelah mati kita akan dihidupkan kembali dan pada saat itu semua telah terlambat karena di situlah kita dihakim oleh Hakim seadil-adilnya Hakim.

Kejadian yang memakan korban jiwa ribuan itu tidaklah terjadi begitu saja tanpa sebab. Karena suatu peristiwa yang terjadi pasti ada sebabnya. Jika diliat dari geografis adanya patahan dan pergesaran lempeng yang jujur aku tidak terlalu tahu banyak mengenai itu. Jika dipikirkan lagi tempat melakukan maksiat perjudian, perzinahan, pesta miras dan narkoba dan istri simpanan tertelan bumi dan dipenuhi lumpur. Tempat-tempat megah seperti hotel, mall dan karaokean hancur rata dengan bangunan yang runtuh. Gadis-gadis pengantut sistem liberal tinggal mayat tak berbusana yang seharusnya Indonesia tidak seperti itu. Pusat pelacuran terbesar di kota tempatku rata dihantam tsunami.

 “Dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman,” (QS. Al Qhashash: 59).

“Jika Kami menghendaki menghancurkan suatu negeri, Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah (berkedudukan untuk taat kepada Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri tersebut, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya,” (QS. Al-Isra': 16).

#Day(3)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

(Perhatian Member: Aku angkat cerita ini dari kejadian di Donggala-Palu)







6 komentar:

  1. Sungguh tidak bisa menayangkan bagaimana paniknya orang2 yang merasakan langsung. Semangat mba, semoga jadi pembelajaran buat kita semua.

    BalasHapus
  2. Ya Allah ikut takut bacanya , semoga trauma itu segera hilang kak.

    BalasHapus

30 HRDC Day 2 : Tolong

Allahummasolli’Ala Sayyidina Muhammad Wa’Ala’alihi Muhammad Allahummasolli’Ala Sayyidina Muhammad Wa’Ala’alihi Muhammad Aku hidup berdua ...