Senin, 06 Mei 2019

30 HRDC Day 2 : Tentang Mama


Aku tidak tahu sampai di mana kehidupan membawaku.

Takdir?
Nasib?
2,5 tahun semakin menambah dan sekarang awal bulan masuk di bulan Mei, tanggal 07 tahun 2019.

Awalnya niatku, ingin mandiri tanpa ketergantungan dari Ibu dan itu terbukti hanya dilihat dari pandang mata. Nyatanya, aliran darahnya mengalir dengan deras di pembuluh detakku menyatu dalam empedu bergerak hingga keseluruhan jaringan-jaringan anggota tubuh.

Hasilnya?
Rinai-rinai mentari memaksa masuk, melalui celah-celah yang kucoba acuh dan abai.

Beberapa hari lalu Mama menghubungiku bertanya kabar dan percakapan rindu antara anak dan Ibu tak lupa adik-adik yang tersayang ikut dalam ruang obrolan via suara telepon.

“Aisah kapan balik dari ujian Ma?”
“Hari Sabtu sore dia balik sama mobil yang bawa dia ujian. Kamu sehat? Udah makan? Di rumah dengan siapa?”
“Sendiri Ma di rumah, iya udah makan kok tumis kangkung sayurku. Udah dong mandi. Aisah mana?”
“Mau bicara sama adekmu kah?” Dengan teriak aku mendengar Mama memanggil adikku. Biasa, biarpun sudah mau tamat SD Aisah itu main sama anak-anak di samping rumah. Anak-anak dari saudara laki-laki Mama tinggalnya di samping kiri rumah.
“Ini kakakmu mau bicara” Lagi aku mendengar teriakkan Mama memanggil adikku.
“Hallo? Kenapa?” Inilah Aisah celeda Ayah selalu sematkan itu untuknya. Suaranya hampir sama dengan Mama cempreng.
“Main terus! Bantu Mama beres rumah. Menyapu sana! Bagaimana ujiannya?”
“Susah-susah gampang. Matematika-nya susah aku”
“Oh, apa emang soalnya susah?”
“Soalnya bentuk cerita, akukan tidak tau. Mau dibagikah dikali ditambah dikurang, aku mau tau”
“Ya udah yang penting selesaikan, rencana mau nyambung di mana? Tempat Otak saja di pesantren. Bagaimana?”
“Tidak tau Mi, aku takut. Aku ndak bisa jauh dari Mama”
“Nanti Mama liattin juga kok, Sabtu Minggu Mama bisa pergi lihat. Itulah belajar mandiri toh?”
“Ndak berani Mi”

Inilah Aisah selalu aku tanya jawabnya selalu begitu. Yah bagaimana lagi. Aku selalu mewanti-wanti dia. Jangan main sama teman yang berperilaku buruk, jangan selalu keluar rumah apalagi malam-malam, berteman boleh tapi jangan ikut perbuatan yang salah, apalagi sama laki-laki kalau suka sama laki-laki harus bilangnya sama aku. Wajib. Pokoknya kalau setiap telepon sama Mama aku selalu bilang jaga Aisah baik-baik. Takut mengikuti arus remaja yang salah. Begitupun  untuk kedua adikku.

Mama itu orangnya cerewet suaranya cempreng melengkik selama kami dirawat dan dijaga darinya jarang (tidak terlalu sering) tangannya menyakiti tubuh kami adapun itu karena kesalahan kami sendiri. Mama itu orang yang paling sabar aku kenal. Pernah saat aku masih SD aliran listrik kami masih numpang sama saudari perempuan Mama tepatnya di samping kanan rumah. Suami dari saudari Mama memutuskan aliran listrik aku tidak tahu alasannya apa saat itu suaminya marah besar sampai memutuskan listrik. Mama luar biasa sabar Mama hanya mengatakan “Tidak tahu pak tuamu kenapa. Malam ini tidak apa-apa pakai pelita dulu ya. Besok Mama usahakan lampu nyala”

Berbicara tentang Mama tidak akan pernah habis. Wanita terhebat mendampingi Ayah dengan setia yang bertahun-tahun menafkahi keluarga nun jauh di negeri seberang sana. Wanita terkuat merawat keempat anak hingga tumbuh dewasa dengan naluri keIbuannya. Banyak kisah aku lalui bersamanya hinggapun aku jauh darinya kisah itu masih mengalir. Mama orang pertama yang aku doaka dalam sujudku. Menyayangi kami dengan caranya sendiri. Menjadi seorang Ibu darinya aku tahu pasti tidak akan berjalan mulus tapi darinya pula aku belajar “Seburuk apapun kata orang mengenai dirinya dan keluarganya Mama selalu mencoba memahami tidak ada jalan yang bersih, rapi dan mulus untuk kita lalui. Pasti ada saja tebing yang tinggi, jalan bebatuan, becek, belokkan demi belokkan yang tajam ditemui. Begitulah gambaran untuk kehidupan dilalui”

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu-Bapaknya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang Ibu-Bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (QS.Luqman : 14).

#Day(2)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah


1 komentar:

  1. Sama, Mamak saya juga kadang cerewet, tapi ya itu gara-gara saya juga, suka bilang "nanti, bentar, tunggu", kalau disuruh. padahal sudah besar begini...

    BalasHapus

30 HRDC Day 2 : Tolong

Allahummasolli’Ala Sayyidina Muhammad Wa’Ala’alihi Muhammad Allahummasolli’Ala Sayyidina Muhammad Wa’Ala’alihi Muhammad Aku hidup berdua ...