Aku tidak tahu sampai di mana kehidupan membawaku.
Takdir?
Nasib?
2,5 tahun semakin menambah dan sekarang awal bulan masuk
di bulan Mei, tanggal 07 tahun 2019.
Awalnya niatku, ingin mandiri tanpa ketergantungan dari
Ibu dan itu terbukti hanya dilihat dari pandang mata. Nyatanya, aliran darahnya
mengalir dengan deras di pembuluh detakku menyatu dalam empedu bergerak hingga
keseluruhan jaringan-jaringan anggota tubuh.
Hasilnya?
Rinai-rinai
mentari memaksa masuk, melalui celah-celah yang kucoba acuh dan abai.
Beberapa
hari lalu Mama menghubungiku bertanya kabar dan percakapan rindu antara anak
dan Ibu tak lupa adik-adik yang tersayang ikut dalam ruang obrolan via suara
telepon.
“Aisah
kapan balik dari ujian Ma?”
“Hari
Sabtu sore dia balik sama mobil yang bawa dia ujian. Kamu sehat? Udah makan? Di
rumah dengan siapa?”
“Sendiri
Ma di rumah, iya udah makan kok tumis kangkung sayurku. Udah dong mandi. Aisah
mana?”
“Mau
bicara sama adekmu kah?” Dengan teriak aku mendengar Mama memanggil adikku.
Biasa, biarpun sudah mau tamat SD Aisah itu main sama anak-anak di samping
rumah. Anak-anak dari saudara laki-laki Mama tinggalnya di samping kiri rumah.
“Ini
kakakmu mau bicara” Lagi aku mendengar teriakkan Mama memanggil adikku.
“Hallo?
Kenapa?” Inilah Aisah celeda Ayah
selalu sematkan itu untuknya. Suaranya hampir sama dengan Mama cempreng.
“Main
terus! Bantu Mama beres rumah. Menyapu sana! Bagaimana ujiannya?”
“Susah-susah
gampang. Matematika-nya susah aku”
“Oh,
apa emang soalnya susah?”
“Soalnya
bentuk cerita, akukan tidak tau. Mau dibagikah dikali ditambah dikurang, aku
mau tau”
“Ya
udah yang penting selesaikan, rencana mau nyambung di mana? Tempat Otak saja di
pesantren. Bagaimana?”
“Tidak
tau Mi, aku takut. Aku ndak bisa jauh dari Mama”
“Nanti
Mama liattin juga kok, Sabtu Minggu Mama bisa pergi lihat. Itulah belajar
mandiri toh?”
“Ndak
berani Mi”
Inilah
Aisah selalu aku tanya jawabnya selalu begitu. Yah bagaimana lagi. Aku selalu
mewanti-wanti dia. Jangan main sama teman yang berperilaku buruk, jangan selalu
keluar rumah apalagi malam-malam, berteman boleh tapi jangan ikut perbuatan
yang salah, apalagi sama laki-laki kalau suka sama laki-laki harus bilangnya
sama aku. Wajib. Pokoknya kalau setiap telepon sama Mama aku selalu bilang jaga
Aisah baik-baik. Takut mengikuti arus remaja yang salah. Begitupun untuk kedua adikku.
Mama
itu orangnya cerewet suaranya cempreng melengkik
selama kami dirawat dan dijaga darinya jarang (tidak terlalu sering) tangannya
menyakiti tubuh kami adapun itu karena kesalahan kami sendiri. Mama itu orang
yang paling sabar aku kenal. Pernah saat aku masih SD aliran listrik kami masih
numpang sama saudari perempuan Mama tepatnya di samping kanan rumah. Suami dari
saudari Mama memutuskan aliran listrik aku tidak tahu alasannya apa saat itu
suaminya marah besar sampai memutuskan listrik. Mama luar biasa sabar Mama
hanya mengatakan “Tidak tahu pak tuamu kenapa. Malam ini tidak apa-apa pakai
pelita dulu ya. Besok Mama usahakan lampu nyala”
Berbicara
tentang Mama tidak akan pernah habis. Wanita terhebat mendampingi Ayah dengan
setia yang bertahun-tahun menafkahi keluarga nun jauh di negeri seberang sana.
Wanita terkuat merawat keempat anak hingga tumbuh dewasa dengan naluri
keIbuannya. Banyak kisah aku lalui bersamanya hinggapun aku jauh darinya kisah
itu masih mengalir. Mama orang pertama yang aku doaka dalam sujudku. Menyayangi
kami dengan caranya sendiri. Menjadi seorang Ibu darinya aku tahu pasti tidak
akan berjalan mulus tapi darinya pula aku belajar “Seburuk apapun kata orang
mengenai dirinya dan keluarganya Mama selalu mencoba memahami tidak ada jalan
yang bersih, rapi dan mulus untuk kita lalui. Pasti ada saja tebing yang
tinggi, jalan bebatuan, becek, belokkan demi belokkan yang tajam ditemui.
Begitulah gambaran untuk kehidupan dilalui”
“Dan
Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu-Bapaknya;
Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan
menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang
Ibu-Bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (QS.Luqman : 14).
#Day(2)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Sama, Mamak saya juga kadang cerewet, tapi ya itu gara-gara saya juga, suka bilang "nanti, bentar, tunggu", kalau disuruh. padahal sudah besar begini...
BalasHapus