Keluarga
Rumah Ternyaman
Jantung hatiku
Cinta pertamaku
Kamu sangat
berharga dalam diri dan hidupku
Tanpamu aku
bukanlah siapa-siapa
Keluarga
tercinta dan terkasih
Apa kabar untuk
hari ini?
Aksara dan
atmaku menjerit memanggilmu dalam setiap bait kataku
Kau sangat
berharga dalam hidupku
Kau rumah tempat
berteduh yang nyaman
Tempat
terakhir
Teruntuk keluarga yang jauh di sana
Di sini aku merindukanmu
Setiap sujud dan tadahan tanganku
Kuselalu meminta kepada sang khalik
Semoga engkau selalu berada di bawah payung agama-Nya
Semoga selalu dalam lindungan-Nya
Aku sangat mencintai kalian
Semoga di masa kita dihadapkan kepada
hakim sesungguhnya
Aku berharap kita bersama berada di dalam surganya Allah
Berkumpul kembali bukan hanya didunia
tapi pun diakhirat
Harsa telah
pergi bersama sinar rembulan
Pergi membawa
kenangan yang tersimpan di memori
ingatan
Akan semua
kegembiraan yang pernah dilalui bersama
Canda, tawa,
sedih, dan senang kita bermain bersama
Satu persatu
jamanikaa tirai kubuka
Kukenang dalam
duduk diamku menatap gambarmu yang tersimpan digaleri ponselku
Kumasih ingat
pintamu kepadaku “Kak,duit. Beli ice cream”
Wajah polos dan
lugumu sangat kusukai; kutersenyum melihatnya kala itu
Kini semua telah
tumbuh dewasa
Dalam
sujudku tak lupa jua kusisipkan namamu
Semoga kau
selalu berada dipayung agamanya Allah
Teruntukmu
adikku tersayang
Memori
Kala
itu jam menunjukkan pukul 04:00 pria gagah nan dewasa membangunkan anak dan
istrinya "Bangun siap-siap mandi solat Ied di mesjid" Perintahnya
kepada keluarga kecilnya. Solat subuh bersama, bersiapkan diri menuju mesjid.
Ayah
dengan pakaian putih hingga ujung kaki mengenekan sorban di lehernya dan peci
menutupi rambutnya. Adik paling bungsu bersamaku di samping tempat barisan
wanita solat. Adik dengan baju biru langit garis-garis hitam dan jilbab biru
senada dengan baju yang dikenakannya. Selagi menunggu solat Ied dilaksanakan
kumelihat dari barisan, ayah mengucapkan takbir saat di barisan terdepan dengan
badanpun ikut bergoyang kekiri dan kekanan. Kudengar, kumelihat dari tempat
dudukku, setetes air tanpa kusadari jatuh dipipi. Kubahagia bisa melihat pria
dewasa yang menjadi pemimpin untukku, adik-adik dan keluarga bersamaku
berkumpul bersama kami. Dan memoriku saat ini berkata itu terakhir kuberkumpul
dengan keluargaku hingga kuberada di sini jauh di sisi hanya menyisahkan
rindu yang amat terdalam.
Masih
kala itu, pertama kali bertemu dengan saudara adik keduaku yang amat kuingin
bertemu dan mengatakan kami saudara dan saudarimu rindu kepadamu. Pertama kali
satu mesjid bersamanya solat Ied bersama hanya saja antara wanita dan pria
dipisah saat solat dan sudah seharusnya begitu. Kupandangi dia dari tempat
dudukku badannya yang kekar, suara baritonnya, mukanya yang kencang sesuai
umurnya. Kumenunduk dan menghapus air mata yang jatuh dipipi sangat bersyukur
melihat pemandangan seperti itu andai yang jadi imam itu adikku kuyakin kuakan
menangis dengan tersedu. Ketika memori kala itu datang menghampiri kusaat ini.
#Day(12)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar