Kamis, 02 Mei 2019

Kamis; Bersama Angin Sore



Kamis, 02 Mei 2019 pukul 16:34 WITA. Shinta sebutlah begitu terduduk dilapisi keramik-keramik putih hasil tangan dari pengrajin bangunan. Sore ini sama halnya sore-sore kemarin, setelah menghabiskan waktu seharian di ruang lingkup pendidikan; menerima, mempelajari serta dikonsumsi oleh seluruh panca indera.

Di sinilah dia, Shinta. Bersama tulang belulang terselimuti tanah liat nan padat, mengalirnya darah disemua jaringan-jaringan anggota tubuh tertutupi sutra yang indah berwarnakan emas.

Sayup-sayup suara keributan terdengar oleh kedua sepasang telinga melaui dinding-dinding berbahan bata berdiri dengan tegak. Suara anak menangis, lalu lalang kendaraan, percakapan manusia hingga kicauan burung dan ayam berkokok.

2.5 tahun semakin menambah hari-hari berlalu tersimpan dalam kotak kenangan. 4 hari dimulai hari ini, bulan penuh pahala menghampiri seluruh umat muslim se-dunia menyambut kedatangannya dengan penuh damba dan pengharapan. Berbondong-bondong status dibeberapa sosial media telah membanjiri penyambutan bulan yang suci.

Sore ini, angin menerjang daun-daun pohon seakan emosi. Daun-daun coklat kering terlepas dari rantingnya melayang dilindas dengan kejam. Daunpun seakan mengamuk berkibas dengan tamparan keras hingga beberapa buah kelapa jatuh sebelum waktunya.

Shinta terperanjap kaget terbangun dari duduknya pintu samping rumahnya terbentur tembok akibat angain mengenainya. Ini bukan angin sore menakutkan pertama kalinya dia rasakan, hanya saja ini di luar dari batas rasa gelisah dia rasakan pasalnya angin sore sebelumnya dia abaikan dengan yakin semua baik-baik saja. Kali ini satu tembok yang membentengi kegelisahan dan ketakutannya mulai retak hingga menunggu hancur berantakkan.

Tak masalah di rumah dihuni beberapa anggota keluarga, nyatanya dia seorang diri ditemani kesepian berkepanjangan. Bungkam oleh sunyi keheningan malam. Beradu dalam komunikasi pada diri sendiri. Ditemani ponsel dan laptop serta deretan cerita novel dalam applikasi dan beberapa jaringan media sosial miliknya.

Shinta, menghela nafasnya memandang pohon pisang dan menduduki dirinya dibangku yang telah dibuat dengan sederhana oleh ibu tirinya. Awan kelabu kata pertama yang dapat dia pikirkan dalam benaknya saat menatap langit di atas sana. Tidak sedikitpun sinar matahari sore menampakkan dirinya. Angin semakin menjadi menerjang dedaunan pohon seakan tubuhpun menjadi objek angin merajuk. Shinta menatap terjangan angin dengan kaki tertekuk pada penyanggah kaki motor belakang seraya melafalkan istighfar dalam hatinya.

Seakan memahami. Anginpun tertiup dengan pelan, secelah sinar matahari sore menampakkan dirinya hingga solawat terdengar seakan alam saat itu tenang dengan damai.

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu jiwa yang merasa tenang kepada-Mu, yang yakin akan bertemu dengan-Mu, yang ridho dengan ketetapan-Mu, dan yang merasa cukup dengan pemberian-Mu”

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masukklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku”(QS. Al-Fajr:27-30)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

30 HRDC Day 2 : Tolong

Allahummasolli’Ala Sayyidina Muhammad Wa’Ala’alihi Muhammad Allahummasolli’Ala Sayyidina Muhammad Wa’Ala’alihi Muhammad Aku hidup berdua ...