Sabtu, 11 Mei 2019

30 HRDC Day 7: Satu Rahsa;Rahasia Untukmu


Detik-detik jam berdetak hingga waktupun berganti.

Bisupun menyapa dalam keheningan malam.

Berkabut dalam atma yang temaram.

Untaian-untaian huruf hijaiyah tertontarkan menjadi kesatuan kalimat dengan suara yang mengalun menenangkan jiwa. Setiap bacaan satu persatu hurufnya begitu sangat berharga. Sebab satu huruf, pembaca memperoleh pahala dicatat malaikat diterima di sisi Tuhan sebagai bekal.

Waktu berangsur dengan cepat yang dulunya berbadan mungil masih berwarna kemerahan, ubun-ubun masih melembut, mata sipit karena belum bisa melihat. Kini, bermain tak kenal waktu ucapan Ibupun kadang kala dirinya anggap angin lalu masuk telingga kanan keluar telingga kiri. Hingga tumbuh menjadi sesosok insan dan mengerti banyak hal. Mana yang baik dan mana yang buruk. Tak jarang niat menjadi awal petaka, entah itu menjerumus kepada penglihatan yang masih abu-abu atau kepada niat putih lagi suci dari segala noda. Sebab, di sisi Tuhan niat baik tentu telah mendapat pahala biarpun belum dikerjakan, sedangkan niat buruk Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengetahui memaklumi setiap hambanya memaafkan kekeliruan, kepada Allah Yang Maha Pengampun.

 Aku; Lokawigna

Pengganggu dunia

Satu rahsa; rahasia untukmu

Aku adalah si benawat

Si insan sombong tak tahu diri.

Perlukah kau berjalan di atas bumi dengan angkuh lagi sombong?
Apa yang menjadikan dirimu begitu buta dan tak tahu malu?
Apakah karena rupa yang beauty lagi handsome?
Apakah karena harta yang melimpah?
Atau, karena dirimu mampu dalam segala hal?
Pantaskah karunia hidup di dunia dirimu begitu angungkan?
Apa bedanya dirimu dengan kehidupan sebelumnya. Sesosok insan brutal lagi hina. Hanyut dalam emas permata dunia yang fana. Hidup dalam jahiliah semata. Maukah?

Jejak-jejak kaki melangkah meninggalkan bekas pada tanah yang basah terkena hujan kemarin. Berlalu lalang menelusuri perjalanan hidup dunia. Terdiam sebentar di pohon rindang sembari meneduhkan diri dari rasa penat. Memandang dihadapan puluhan manusia beraktivitas, menyibukkan diri dengan job masing-masing. Tak jauh dari mata memandang gadis remaja itu menghampiri tempat nenek-nenek yang sebelumnya duduk di depan pintu masuk masjid mengeluarkan beberapa lembar rupiah dan menyimpan sebungkus plastik berwarna hitam lantas berlalu sebelum pemiliknya kembali. Seperti dugaan, gadis tadi memberi lembaran rupiah itu dan sebungkus nasi dan air minum. Diripun beranjak pergi, seperti kata Tuhan “Di mataKu setiap hamba memiliki kedudukan yang sama. Hanya saja yang membedakan hamba satu dengan hamba yang satu amal solehnya”.

#Day(7)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah


2 komentar:

  1. Alaram lagi nih, untuk memperingati diri kalau alpa. Makasih tulisan mencerahkannya mba.

    BalasHapus

30 HRDC Day 2 : Tolong

Allahummasolli’Ala Sayyidina Muhammad Wa’Ala’alihi Muhammad Allahummasolli’Ala Sayyidina Muhammad Wa’Ala’alihi Muhammad Aku hidup berdua ...