Detik-detik
jam berdetak hingga waktupun berganti.
Bisupun
menyapa dalam keheningan malam.
Berkabut
dalam atma yang temaram.
Untaian-untaian
huruf hijaiyah tertontarkan menjadi kesatuan kalimat dengan suara yang mengalun
menenangkan jiwa. Setiap bacaan satu persatu hurufnya begitu sangat berharga. Sebab
satu huruf, pembaca memperoleh pahala dicatat malaikat diterima di sisi Tuhan
sebagai bekal.
Waktu
berangsur dengan cepat yang dulunya berbadan mungil masih berwarna kemerahan,
ubun-ubun masih melembut, mata sipit karena belum bisa melihat. Kini, bermain
tak kenal waktu ucapan Ibupun kadang kala dirinya anggap angin lalu masuk
telingga kanan keluar telingga kiri. Hingga tumbuh menjadi sesosok insan dan
mengerti banyak hal. Mana yang baik dan mana yang buruk. Tak jarang niat
menjadi awal petaka, entah itu menjerumus kepada penglihatan yang masih abu-abu
atau kepada niat putih lagi suci dari segala noda. Sebab, di sisi Tuhan niat
baik tentu telah mendapat pahala biarpun belum dikerjakan, sedangkan niat buruk
Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengetahui memaklumi setiap hambanya memaafkan
kekeliruan, kepada Allah Yang Maha Pengampun.
Aku; Lokawigna
Pengganggu
dunia
Satu
rahsa; rahasia untukmu
Aku
adalah si benawat
Si
insan sombong tak tahu diri.
Perlukah
kau berjalan di atas bumi dengan angkuh lagi sombong?
Apa
yang menjadikan dirimu begitu buta dan tak tahu malu?
Apakah
karena rupa yang beauty lagi handsome?
Apakah
karena harta yang melimpah?
Atau,
karena dirimu mampu dalam segala hal?
Pantaskah
karunia hidup di dunia dirimu begitu angungkan?
Apa
bedanya dirimu dengan kehidupan sebelumnya. Sesosok insan brutal lagi hina.
Hanyut dalam emas permata dunia yang fana. Hidup dalam jahiliah semata. Maukah?
Jejak-jejak
kaki melangkah meninggalkan bekas pada tanah yang basah terkena hujan kemarin.
Berlalu lalang menelusuri perjalanan hidup dunia. Terdiam sebentar di pohon
rindang sembari meneduhkan diri dari rasa penat. Memandang dihadapan puluhan
manusia beraktivitas, menyibukkan diri dengan job masing-masing. Tak jauh dari mata memandang gadis remaja itu
menghampiri tempat nenek-nenek yang sebelumnya duduk di depan pintu masuk
masjid mengeluarkan beberapa lembar rupiah dan menyimpan sebungkus plastik
berwarna hitam lantas berlalu sebelum pemiliknya kembali. Seperti dugaan, gadis
tadi memberi lembaran rupiah itu dan sebungkus nasi dan air minum. Diripun
beranjak pergi, seperti kata Tuhan “Di mataKu setiap hamba memiliki kedudukan
yang sama. Hanya saja yang membedakan hamba satu dengan hamba yang satu amal
solehnya”.
#Day(7)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Alaram lagi nih, untuk memperingati diri kalau alpa. Makasih tulisan mencerahkannya mba.
BalasHapusKata2nya puitis
BalasHapus